Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek
Peneliti Perguruan Tinggi & Pemerintah Sulut  Ibarat Menara Gading ? 
 
Oleh, Fabian J Manoppo
 
Pameo mengatakan orang Sulut pintar rasanya perlu diadakan pengkajian kembali setelah membaca beberapa informasi dan data dibawah berikut ini,
Jikalau buku-buku mengenai bagaimana memakmurkan orang atau perusahaan sudah sering diterbitkan dan diulas, namun rasanya info bagaimana menjadi negara yang besar dan disegani masih kurang di negara kita tercinta ini. Bagaikan mendapat mutiara yang sangat berharga, cara memajukan suatu negara datang dari Bruce Alberts. Seperti yang bisa kita baca di Koran Tempo, Utusan Khusus Sains Amerika Serikat tersebut dalam kunjungannya di Indonesia mengatakan bahwa "Ekonomi (saat ini di Indonesia, red) semakin baik sehingga menjadi saat yang tepat bagi Indonesia memajukan pendidikan sains dan penelitian. Pembangunan ilmu dasar dan penelitian memberi kontribusi signifikan dalam menyelesaikan masalah pembangunan. Negara yang bergerak ke arah kemajuan akan menghadapi masalah kompleks sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang pintar menemukan solusi. Siswa dengan pengetahuan sains baik bisa menyelesaikan masalah dengan cara-cara baru."

Dari pernyataan tersebut, terlihat betapa pentingnya riset itu sehingga "siswa dengan pengetahuan sains yang baik bisa menyelesaikan masalah dengan cara-cara baru", yang jika kita angkat ke level yang lebih tinggi, jika Indonesia memiliki banyak periset, tentu bisa menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Pantas saja, banyak negara yang sekarang disebut negara maju, tidak tanggung-tanggung menggelontorkan uang milyaran dollar Amerika di bidang riset guna bisa bersaing di kancah dunia international. Umumnya masih mengutip pernyatan Bruce, angka ideal porsi dana penelitian di negara-negara pembangunan berkelanjutan adalah sebesar 1,5 persen.

Tabel yang dibuat tahun 2010 di bawah bisa mencerminkan seberapa besar porsi dana riset negara-negara di dunia.

Porsi budget riset vs PDB (tahun 2008)

Makin tinggi porsinya, makin maju negara tersebut. Contoh yang bisa diangkat adalah Korea Selatan. Lima belas atau dua puluh tahun lalu, siapa yang mengenal brand-brand Korea Selatan. Dengan porsi budget riset sebesar 43 miliar dollar AS (atau 3,1% Pendapatan Domestik Bruto), saat ini, brand seperti: Hyundai, Samsung dan sekarang Lotte Mart, sudah familiar dengan kita. Begitu pula dalam bidang bioteknologi. Korsel adalah negara pertama yang menyetujui komersialisasi stem cell.

Singapura
Contoh menarik lainnya, ditunjukkan oleh negara Singapura. Meskipun negara tersebut miskin akan sumber alam, namun beberapa terobosan guna memajukan iklim penelitian di sana telah dilakukan. Antara lain: pemberian insentif bagi perusahaan yang melakukan penelitian, penghargaan yang tinggi bagi para peneliti, dll. Akibatnya, membanjirlah para peneliti dari negara maju serta perusahaan-perusahaan besar ke Singapura.
Grafik porsi budget riset vs PDB 2008

Bagaimana di Indonesia?
Melalui Kemenagristek, Indonesia pun tidak mau ketinggalan. Setiap tahun budget untuk riset terlihat ada peningkatan. Dari 0.06 persen pada tahun 2009, saat ini sudah mencapai 0,2%. Bahkan dalam waktu dekat ini dalam rangka Harteknas ke-16 (tahun 2011), beberapa acara diadakan oleh Kemennegristek antara lain:
  • audiensi 500 peneliti, perekayasa dan inovator dengan Presiden RI
  • seminar dengan pembicara: menteri-menteri terkait, dunia usaha, akademisi dan balitbang serta inovator sukses
  • open house laboratorium di kawasan puspitek
  • dll.

Di perusahaan swasta, kita bisa lihat apa yang dilakukan Kalbe Farma. Sejak tahun 2008, bekerjasama dengan Kemennegristek, telah diselenggarakan acara dwi tahunan yang disebut Ristek-Kalbe Science Awards (RKSA). Suatu selebrasi bagi peneliti-peneliti Indonesia yang berprestasi. Mulai tahun 2011 ini, Kalbe menyelenggarakan Junior Scientist Award yang diakhiri dengan Junior Science Fair.

Bagaimana dengan Sulawesi Utara?
 
Ungkapan awal diatas bahwa berdasarkan pameo orang Sulut Pintar perlu dikaji kembali berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam melakukan penelitian di mana di Sulut ada 2 perguruan tinggi yang besar Universitas Samratulangi dan Universitas Negeri Manado ternyata belum mampu memberikan kontribusi yang berarti. Dari data-data yang ada contohnya di unsrat dari tahun 2006-2010 dari jumlah dosen kurang lebih dari 1000 orang lebih hanya 327 orang dosen yang melakukan penelitian (sumber Website unsrat ; e Journal Unsrat ) demikian juga dengan Universitas Negeri Manado UNIMA (sumber unofficial Webite UNIMA) juga jumlahnya masih belum melebih setengah dari jumlah dosen yang ada. Sehingga tidak ada salahnya penulis mengatakan bahwa perguruan tinggi dan pemerintah ibarat menara gading dalam arti problem yang ada di Sulawesi Utara  berjalan tidak dalam satu penataan yang baik sehingga walaupun dengan alokasi dana yang minim untuk penelitian hasilnya tidak optimal atau kurang dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat Sulut.
 
 
Sungguh sangat ironi keadaan ini  padahal pemerintah dan masyarakat Sulawesi utara terlalu berharap banyak untuk menjadikan Sulut sebagai bangsa yang besar. Jadi jangan heran kalau masalah lingkungan di Sulut seperti Eceng Gondok di danau Tondano, masalah kemacetan, masalah KKN, masalah bencana alam, diversivikasi kelapa,cenkeh,pala dll masih belum terselesaikan. Hendaknya para pemimpin dan stakeholder pengambil kebijakan memahami akan masalah ini jika ingin menjadi bangsa yang besar, Kalau tidak ibarat Punguk Merindukan Bulan Sulut kelihatan maju tapi sayang hanya akan menjadi "BUDAK" atas kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi begitu banyak dan cepat karya-karya Iptek terkini beredar di Sulut namun hanya sebatas pemakai bukan pembuat. Berdoa adalah jalan terbaik tapi bukan itu saja berusaha dan bekerja keras sangat dibutuhkan untuk menjadi lebih baik.
 
 
Sumber dan ditambahkan oleh penulis :
http://www.eriktapan.com/2011/07/bisakah-riset-dan-teknologi-memajukan.html#more



Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :