Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek
Kegagalan Otak Manusia
 
 
 
Oleh, Prof. Dr. Benni Assa,
 
Nenek moyang bangsa Indonesia, mengajarkan bahwa "sepandai-pandainya tupai melompat suatu ketika akan jatuh juga". Dengan kata lain, 'kegagalan pikiran dan ide manusia' adalah sebuah 'fakta' dalam kemanusiaan yg tdk dapat di-eliminir 100% bagaimanapun cerdasnya orang itu. 
 
Kalau jutaan orang membeli satu jenis telepon seluler, maka akan ada diantaranya yg mengalami defect and deficiency (produk yg cacad) walaupun semuanya di produksi dgn cara yg sama.  Kalau kita melakukan test di laboratorium, walaupun metode test sudah direncanakan dgn benar, kadang-2 hasil test yg diperoleh sangat meragukan sehingga test harus diulangi. Para Menteri Ekonomi biasanya merasa sangat pandai memimpin ekonomi negara, tetapi walaupun mereka telah melakukannya sesuai dgn prinsip-2 ilmu ekonomi, namun kenyataannya banyak negara mengalami krisis ekonomi, termasuk Amerika Serikat sebagai negara asal mayoritas  para pemenang Nobel Ekonomi.
 
Kegagalan seperti diuraikan diatas secara simbolik dalam tulisan ini disebut sebagai ‘kegagalan otak manusia’ dan dapat juga dikatakan sebagai ‘kegagalan pikiran dan ide manusia’.  Berikut ini akan diuraikan sebuah contoh yaitu apa yang menjadi satu kegagalan pikiran dan ide para brightest mind negara-2 Eropa sehubungan dengan pembentukan kelompok negara yang menggunakan satu mata uang bersama EURO.
 
Tidak perlu kuliah di Fakultas Ekonomi, tetapi hanya dgn common sense kita akan mengerti bahwa nilai sebuah mata uang sangat tergantung kepada keadaan ekonomi sebuah negara. Beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan ekonomi sebuah negara antara lain adalah besaran defisit APBN, jumlah hutang pemerintah, GDP, neraca perdagangan luar negeri, dan kebijakan moneter Bank Sentral.  Itulah alasannya setiap negara seharusnya memiliki mata uang sendiri karena semua parameter itu hanya dapat ditentukan oleh pemerintah negara bersangkutan dan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah negara lain.
 
Dalam kerangka berpikir demikian, dapat dikatakan bahwa para ahli ekonomi Eropa telah melakukan kesalahan yang sangat fatal yaitu menciptakan mata uang bersama bernama EURO, tetapi parameter-2 yang diuraikan diatas tetap ditentukan sendiri oleh pemerintah masing-2 negara. Dalam keadaan seperti itu, nilai EURO tdk menggambarkan keadaan ekonomi masing-2 negara tetapi menggambarkan keadaan ekonomi rata-rata secara bersama.  Bagi Jerman dan Perancis EURO terlalu rendah nilainya, sedangkan bagi Yunani, Spanyol, Portugal, Irlandia dan Italia nilai EURO terlalu tinggi.  Keadaan ini secara parallel dapat digambarkan dgn keadaan dimana ada 17 orang dgn ukuran badan yg berbeda-beda dipaksa menggunakan satu jenis pakaian dengan ukuran yg sama. Dapat dimengerti apa yg terjadi bukan?  Inilah sebenarnya alasan yang sangat fundamental mengapa terjadi krisis di Yunani, Irlandia, sekarang di Italia dan kemungkinan besar akan diikuti oleh Spanyol dan Portugal.
 
Pembentukan mata uang bersama EURO di akhir 1990-an telah melalui kajian dan melalui proses yang sangat hati-hati oleh para ahli ekonomi Eropa, tetapi hanya satu yang mereka lupakan bahwa dalam kemanusiaan terdapat apa yang disebut sebagai ‘kegagalan pikiran dan ide manusia’ yang tidak dapat dihindari 100%. Ternyata tidak lebih dari 15 tahun mereka telah melihat kegagalan itu, membayarnya dengan mahal dan harus mem-bail out negara-negara yg mengalami krisis hutang bilamana ingin mempertahankan negara-negara itu tetap dalam kelompok EURO.

Salam dari Toronto,
Beni Assa
 

Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :