Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek
 
Posted by, Hasanudin Abdurakhman at FB GDI
(Pernah dimuat pada Majalah Inovasi PPI Jepang)

Beberapa bulan lalu situs internet jurnal ilmiah terkemuka Nature bulan lalu memberitakan penarikan sebuah makalah dari sebuah jurnal biologi Cell, karena penulisnya, Siu-Kwong Chan, ternyata telah melakukan pemalsuan data yang dipublikasikan pada makalah tersebut. Ketika menulis makalahnya S. K. Chan adalah seorang peneliti post-doctoral di Howard Hughes Medical Institute (HHMI) sebelum pindah ke Albert Einstein College of Medicine. Dia bersama Gary Struhl menulis mengenai sekelompok protein yang dikenal sebagai Wnt dan memainkan peran penting dalam pembentukan sel. Makalah Chan tersebut mengungkapkan bukti-bukti baru yang bertentangan dengan pengetahuan konvensional tentang cara kerja Wnt tadi. Artinya, kalau terbukti benar, makalah ini akan menumbangkan teori yang telah lama dianut.

Kehadiran makalah ini kemudian menyulut kontroversi. Ahli-ahli terkemuka banyak yang mempertanyakannya. Ketika Struhl mencoba melakukan kembali eksperimen yang telah dilakukan Chan ternyata dia gagal. Lalu hal ini dikonfirmasikan ke Chan, dan dia akhirnya mengakui bahwa sebagian besar data yang ditulis dalam makalah itu tidak dia kerjakan eksperimennya atau eksperimennya memberikan hasil yang berbeda. Atas dasar pengakuan ini Struhl kemudian menarik kembali makalah tersebut, 15 bulan setelah penerbitannya.

Dunia Fisika telah terlebih dahulu diguncangkan oleh kasus serupa yang lebih spektakuler skalanya. Oktober tahun lalu, Science, sebuah majalah ilmiah terkemuka lain, mencabut sekaligus 8 makalah dengan Hendrik Schon sebagai penulis utamanya. Schon adalah seorang superstar sains asal Jerman dan bekerja pada sebuah lembaga riset yang sangat disegani Lucent Technologies’ Bell Labs. Dia telah menghasilkan lebih dari 80 makalah di jurnal-jurnal terkemuka dan mendapat berbagai penghargaan ilmiah. Dia juga telah melakukan pekerjaan penting dalam bidang ilmu bahan dan elektronika, khususnya dalam masalah semikonduktor molekul, laser, dan superkonduktor temperatur tinggi. Hasil-hasil risetnya membuat ia ditunjuk menjadi Direktur di Max Plank Institute (sebelum akhirnya dibatalkan karena kecurangannya) dan dijadikan kandidat penerima hadiah Nobel.


Hasil riset Schon mulai mengundang kecurigaan ketika ditemukan sebuah grafik yang sama dari dua makalah yang membahas dua eksperimen yang berbeda dalam makalah terpisah. Hal ini justru ditemukan oleh sekelompok kecil peneliti pada Bell Labs, yang kemudian melaporkannya ke seorang profesor di Princeton. Profesor ini lalu menganalisa makalah-makalah Schon secara detil dan menemukan bahwa banyak grafik dalam makalah Schon yang merupakan hasil pemalsuan. Temuan ini kemudian dilaporkan ke majalah Nature dan Science, Schon sendiri, serta ke penyelianya di Bell Labs. Schon mulanya membantah tuduhan pemalsuan data tersebut. Karenanya Bell Labs kemudian membentuk sebuah tim independen untuk menyelidiki kasus ini. Di akhir penyelidikan disimpulkan bahwa telah terjadi kesalahan yang disengaja dalam pengambilan data eksperimen. Hasil penyelidikan ini mengakhiri karir Schon sebagai ilmuwan.

Kecurangan yang sama dilakukan pula oleh Victor Ninov, peneliti di Lawrence Berkeley (California) National Laboratory. Ninov mengklaim telah menemukan elemen nomor 116 dan 118. Belakangan diketahui bahwa Ninov telah memalsukan data eksperimen untuk mendukung klaim penemuannya setelah ilmuwan lain ternyata gagal mengulang eksperimen tersebut.

Menyikapi kecurangan-kecurangan itu, International Union of Pure and Applied Physics (IUPAP) atas inisiatif Martin Blume, editor-in-chief American Physics Society (APS), Oktober tahun lalu melakukan pertemuan di Institute of Physics, London. Pertemuan itu dinamakan IUPAP Workshop on Scientific Missconduct and the Role of Physics Journals in Its Investigation and Prevention. Pertemuan ini diikuti tak kurang dari 50 editor berbagai jurnal Fisika serta ilmuwan dari berbagai negara. Sebagaimana judulnya, pertemuan ini dimaksudkan untuk mendiskusikan sebab serta cara penanggulangan kecurangan dalam riset ilmiah.


*****


Proses penyeleksian suatu makalah untuk dipublikasikan pada sebuah jurnal ilmiah memang menyediakan banyak lubang untuk melakukan kecurangan. Prosedur penilaian sebuah makalah, baik oleh editor maupun refree sebuah jurnal dilakukan atas dasar kepercayaan. Dengan demikian validitas data hanya dipertanyakan dalam konteks apakah dalam pengambilan data tersebut tidak terjadi kesalahan pengukuran. Editor dan refree umumnya tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan tentang kemungkinan pemalsuan data oleh penelitinya. Dengan demikian, kecurangan tidak akan bisa dideteksi kalau data yang ditampilkan tidak benar-benar aneh dalam logika sains. Dalam kasus-kasus pemalsuan yang disebut di atas, pelakunya adalah ilmuwan yang sudah berpengalaman dalam dunia riset, sehingga dapat dengan mudah menampilkan data yang terlihat seperti data yang sahih.


Budaya feodal, yang ternyata juga dominan dalam dunia sains, turut berperan. Banyak orang yang namanya diikutsertakan sebagai penulis dalam sebuah makalah sebenarnya tidak punya kontribusi langsung terhadap riset yang dilaporkan dalam makalah tersebut. Beberapa penulis pendamping pada kasus Schon, misalnya, ternyata sama sekali tidak membaca naskah makalahnya sebelum diterbitkan. Sebagian dari mereka hanya terlibat dalam hierarki organisasi yang membawahi tim pelaksana penelitian. Nama mereka dimasukkan sebagai bukti penghormatan dan pernyataan terima kasih, dan di sisi lain untuk memuluskan proses penilaian sebelum diterbitkan. Masih terkait dengan budaya feodal tadi, para editor maupun refree di banyak jurnal ternyata juga dipengaruhi oleh nama besar dalam melakukan penilaian. Artinya, makalah-makalah yang pada daftar penulisnya terdapat nama-nama besar, akan punya peluang lebih besar untuk lulus seleksi.


Masalah lain yang turut berperan memicu kecurangan ini adalah kondisi di dunia penelitian modern yang sudah mulai berkembang menjadi dunia yang materialistis. Ilmuwan di dunia modern adalah sebuah profesi yang menghasilkan uang, kemakmuran, dan kemasyhuran. Di dunia itu juga ada persaingan dengan hukum rimba: yang kuat menang, yang kalah tersingkir. Dan publikasi di jurnal-jurnal adalah alat ukur penting di dunia ini. Publikasi diperlukan ketika seorang ilmuwan melamar ke suatu posisi. Ia juga diperlukan untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi. Celakanya, tanpa publikasi memadai seseorang bisa terjungkal dari posisi yang dia tempati. Boleh dikata, publikasi adalah segalanya. Situasi inilah yang mungkin telah membuat beberapa ilmuwan jadi gelap mata.


Kasus-kasus yang diungkap di atas boleh jadi hanyalah ujung kecil dari sebuah gunung es masalah ini. Para editor yang hadir dalam pertemuan tadi melaporkan bahwa kecurangan yang berhasil dideteksi pada proses penilaian di bawah 1% dari jumlah total makalah. Jumlah yang sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar dari jumlah itu. Belum lagi kalau kriteria kecurangan itu diperluas. Sudah jadi rahasia umum bahwa kalangan ilmuwan melakukan “sentuhan tambahan” terhadap data yang dipublikasikan agar tampak meyakinkan. Tindakan yang paling sering dilakukan adalah proses “pemulusan”, yaitu membuang data, dalam kadar tertentu, yang menyimpang dari alur cerita yang hendak dituliskan. Tindakan ini sebenarnya adalah sebuah awal dari berbagai kecurangan tadi.


Dalam skala dan bentuk yang berbeda, kita telah menemukan beberapa kasus kecurangan di dunia ilmiah Indonesia. Di antaranya kasus plagiat oleh Iphong S. Azhar pada disertasi doktornya di UGM, serta kasus serupa di Universitas Andalas baru-baru ini.. Kasus-kasus yang dibahas di atas tadi hendaknya dijadikan alarm oleh para ilmuwan Indonesia untuk menjunjung tinggi kejujuran ilmiah. Di tengah minimnya kontribusi ilmuwan kita di tingkat internasional, sebuah kasus kecurangan hanya akan makin membuat reputasi bangsa kita semakin terpuruk.

Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :