Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek

Buaya di Sangihe dan Moral Konservasi kita

Oleh: Herman Teguh

Buaya adalah binatang yang kontroversial.  Dia anggun dan kharismatik, tapi juga dibenci dan ditakuti.  Dalam banyak cerita rakyat, dia adalah tokoh eksekutor bagi yang berbuat salah.  Tapi di Papua dia justru korban pembantaian.  Banyak perusahan penangkaran buaya yang kerjanya hanya menangkapi buaya-buaya liar dari alam lalu menjual kulitnya yang mahal dengan menggunakan label “hasil penangkaran”.  Tidak cuma itu, dagingnya yang limbah juga diolah menjadi sate supaya bisa laku.  Dan karena ini adalah menu yang tidak lazim, mereka merasa perlu untuk melakukan sosialisasi.  Lewat berbagai pameran, sate ini dipromosikan ke masyarakat luas.  Sepertinya ada misi tersembunyi disini; mengajar rakyat untuk makan daging satwa liar langka yang dilindungi, karena daging ternak di pasar tidak lagi cukup.

Tingginya perburuan, rusaknya banyak habitat, serta sikap yang tidak bersahabat dari manusia, membuat nasib buaya terpuruk.  Dalam dua atau tiga dekade terakhir, populasi empat jenis buaya yang ada di Indonesia mengalami penurunan tajam.  Salah satunya adalah buaya muara Crocodylus porosus.  Buaya ini sebenarnya memiliki daerah penyebaran yang paling luas, yaitu Asia Tenggara dan Papua, sebagian Asia Selatan, sebagian Australia dan juga sebagian pulau-pulau di Pasifik baratdaya.  Tapi kepunahan lokal yang terjadi dimana-mana membuat peta penyebarannya penuh lobang.  Salah satu lobang itu adalah Minahasa.  Sebuah laporan ilmiah yang ditulis awal abad 20 menyebut bahwa binatang ini terdapat di Manado, Kema, dan Danau Tondano.  Sekarang, kita tentu sulit percaya kalau di tempat-tempat itu buaya masih ada.  Populasi-populasi buaya kebanyakan tinggal bertahan di tempat-tempat yang jauh dari manusia.

Makanya, ketika pada awal November 2007 lalu kami menerima SMS dari seorang anggota pencinta alam di Sangihe, Denisius Piara, yang mengatakan bahwa di Kampung Laine, Manganitu Selatan, ada buaya, kami terkejut dan tidak begitu yakin.  Bagaimana mungkin reptil raksasa seperti itu bisa bertahan di pulau Sangihe yang mirip Minahasa, padat penduduknya dan hampir semua habitat alaminya sudah berubah menjadi kebun dan pemukiman.  Juga bagaimana mungkin binatang itu bisa ada di lingkungan seperti Laine, desa dengan penduduk hampir 2500 jiwa dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap – pasar, sekolah, serta pos kesehatan?

Tapi keraguan itu langsung sirna ketika pada akhir Maret 2008 lalu di Yayasan Lestari diputar film yang berisi rekaman buaya tersebut.  Dalam film itu – yang dibuat oleh seorang pemuda Laine bernama Charles Rorong pada tanggal 25 November 2007 dan kopinya diperoleh dari WildLife Conservation Society (WCS) Sulawesi—ada tiga ekor buaya.  Orang-orang WCS mengidentifikasinya sebagai Crocodylus porosus.  Maka sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 10 dan 11 April 2008 lalu, suatu tim kecil dari Yayasan Lestari dan WCS pun mengunjungi lokasi dimana film itu dibuat.  Itu adalah sepetak hutan bakau dan rawa pantai di pinggir Kampung Laine.  Hasilnya tak sia-sia.  Dua ekor buaya yang masing-masing berukuran 4 dan 2.5 meter menampakkan diri dan kamera video milik Yayasan Lestari berhasil merekamnya.

Pulau Sangihe nampaknya sedang membuat kejutan.  Sebelumnya, kira-kira sepuluh tahun lalu, pulau juga ini mengejutkan ahli-ahli konservasi ketika sejenis burung sikatan berwarna biru cerah yang sudah dianggap punah, yaitu Burung Niu (Eutrichmyias rowleyi), ditemukan lagi di Pegunungan Sahendarumang.  Sekarang kejutan itu datang dari jenis reptil raksasa yang secara teoritis agak meragukan kalau masih bisa ada.  Lokasi penemuannya juga nyaris bersebelahan dengan pemukiman penduduk.  Memang, buaya pernah terdapat disini.  Bahkan menurut Kapitalaung Laine, Nobertus Lahengko, pada tahun-tahun 1960-an s/d 1980-an jumlahnya masih “lumayan banyak”.  Tapi setelah adanya perburuan oleh para pendatang asal Sulawesi Tengah dan Selatan, binatang ini menghilang.  Buaya terakhir katanya terlihat sekitar tahun 1987.

Kita boleh heran, tapi ada ironi disini.  Jika penemuan Burung Niu membuat Sangihe menjadi perhatian dunia, kemunculan ulang buaya justru tidak.  Jangankan dunia, pada tingkat Sulawesi Utara saja, perhatian tidak ada.  Buaya sebenarnya bukan tak unik.  Anggota ekosistem pesisir dan rawa yang menduduki puncak rantai makanan ini konon suka melindungi bayinya di dalam mulutnya.  Jenis kelamin bayi-bayinya juga ditentukan oleh suhu dimana telur-telurnya dierami sehingga ada kemungkinan menghadapi ancaman karena perubahan suhu global.  Buaya muara memang bukan jenis endemik Sangihe, tapi kemungkinan itu belum tertutup.  Populasi-populasinya yang tersebar luas telah menimbulkan dugaan bahwa dia terdiri dari jenis-jenis yang berbeda.

Tapi takdir buaya memang tak sebagus Burung Niu.  Keberadaannya yang berkesan “ada dimana-mana” serta rasa takut akan sifatnya yang bisa ganas, membuat reptil yang memiliki jantung berbilik empat mirip mamalia ini tidak populer.  Upaya-upaya konservasi terhadapnya sering harus mengalah jika yang dipersoalkan adalah cap pembunuhnya.  IUCN Red Data Book sendiri juga – herannya – hanya menggolongkan dia sebagai jenis yang beresiko rendah.  Ini menjadi semacam vonis yang pada akhirnya menyudutkan dia sebagai satwa liar yang “minim donor”.  Jika burung Niu serta lima jenis burung endemik Sangihe-Talaud lain pernah menerima medium-sized grant dari Global Environmental Facilities (GEF), buaya Laine pasti tak akan.

Makanya, di tengah-tengah memudarnya era konservasi jenis serta sedang naik daunnya model konservasi berbasis masyarakat, masa depan buaya tak begitu menjanjikan.

Tapi apakah ini kemudian menjadi alasan untuk menelantarkan mereka?  Tidak.  Kita telah menjual begitu banyak keanekaragaman hayati dari bumi kita, termasuk lembar-lembar kulit buaya yang tak terhitung jumlahnya.  Seharusnya kita punya dana untuk menyelamatkan beberapa ekor buaya di Laine ini.  Buaya adalah satwa liar yang dilindungi hukum.  Mereka tidak boleh diapa-apakan tanpa ijin tertulis dari Pemerintah, dalam hal ini Balai KSDA Sulawesi Utara.

Hanya saja, menyelamatkan buaya secara in situ jelas bukan sesuatu yang mudah.  Apalagi, jika lokasi in situ itu terkepung oleh pemukiman penduduk.  Buaya adalah satwa liar yang dapat membahayakan penduduk.  Konservasinya memerlukan perencanaan yang matang.  Pada sisi yang lain, waktu juga amat menentukan.  Konflik dengan manusia bisa muncul setiap saat dan kita tidak tahu itu kapan.  Saat ini penduduk Laine memang tidak bereaksi.  Tapi seandainya konflik itu terjadi dan ada korban di pihak manusia, maka bisa dipastikan semua upaya konservasi akan gagal.  Penduduk akan memusuhinya dan undang-undang manapun tak akan mampu melindunginya.

Makanya yang tersisa sekarang tinggal pilihan-pilihan yang melibatkan moral konservasi.  Apakah kita akan membiarkan buaya-buaya itu sampai waktu yang akan menentukan takdirnya?  Apakah kita akan mengamankan mereka ke sebuah kebun binatang?  Apakah kita akan membunuh mereka untuk dijadikan koleksi museum?  Atau apakah kita mau membiarkan mereka tetap di Laine dengan konsekuensi kita harus rela berbagi lahan dan menyiapkan suatu rencana pengelolaan yang adil.  Semua ini sekali lagi tergantung pada moral konservasi kita.  Buaya memang binatang yang jahat.  Tapi jika dikelola dengan baik dan terencana, bukan tidak mungkin dia juga bisa menjadi daya tarik pariwisata dan mendatangkan keuntungan.  Sekarang keputusannya ada pada kita, dan itu harus diambil segera.

Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :