Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek
Ancaman Pola Hidup Hedonisme
 
Oleh, Dr.Fabian J. Manoppo
 
Issue yang hangat akhir akhir ini yang banyak dimuat dikoran koran nasional adalah pernyataan menarik dari ketua KPK bpk Busyroo Muqoddas dan pak Mahfud MD sebagai ketua Mahkamah Konstitusi dari kedua pernyataan mereka yakni Sikap Hidup Hedonisme dan Gila Hormat para pejabat di negara kita terutama para anggota DPR telah membuat kita tercengang dan membuat merah kuping para anggota DPR yang merasa tersinggung. Untuk memahami lebih jauh apa dan bagaimana tentang Sikap Hidup Hedonis serta bagaimana agar kita terhindar dari sikap hidup seperti ini berikut ini uraian singkat dari saya.
 
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani ἡδονισμός hēdonismos dari akar kata ἡδονή hēdonē, artinya "kesenangan".  Paham ini berusaha menjelaskan adalah baik apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri.

Latar belakang

Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM.  Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?"  Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan.  Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pandangan tentang 'kesenangan' (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja --seperti Kaum Aristippos--, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.

Tokoh :

Aristippus dari Kyrene adalah seorang filsuf Yunani yang memperlajari ajaran-ajaran Protagoras. Ini dilakukannya selama berada di kota asalnya, yaitu Kyrene, Afrika Utara.  Aristippus kemudian mencari Sokrates dan menjalin hubungan baik dengannya. Setelah Sokrates wafat, Aristippos tampil sebagai "Sofis" dan menjadi guru profesional di Atena.  Lalu di Kyrene ia mendirikan sekolah yang dinamakan ''Cyrenaic School'' yang merupakan salah satu sekolah Sokratik yang tidak dominan.  Sekolah ini mengajarkan perasaan-perasaan sebagai kebenaran yang paling tepat dalam hidup.  Kesenangan adalah baik --termasuk juga kepuasan badani. Kehidupan orang bijak selalu mencari jaminan kesenangan maksimal. 

Aristippus menyetujui pendapat Sokrates bahwa keutamaan adalah mencari "yang baik".  Akan tetapi, ia menyamakan "yang baik" ini dengan kesenangan "hedone". Menurutnya, akal (rasio) menusia harus memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan kesusahan.  Hidup yang baik berkaitan dengan kerangka rasional tentang kenikmatan. 

Kesenangan menurut Aristoppus bersifat badani (gerak dalam badan).  Ia membagi gerakan itu menjadi tiga kemungkinan:

1. Gerak kasar, yang menyebabkan ketidaksenangan seperti rasa sakit

2. Gerak halus, yang membuat kesenangan

3. Tiada gerak, yaitu sebuah keadaan netral seperti kondisi saat tidur.

Aristippus melihat kesenangan sebagai hal aktual, artinya kesenangan terjadi kini dan di sini.  Kesenangan bukan sebuah masa lalu atau masa depan. Menurutnya, masa lalu hanya ingatan akan kesenangan (hal yang sudah pergi) dan masa depan adalah hal yang belum jelas. 

Meskipun kesenangan dijunjung tinggi oleh Aristoppus, ada batasan kesenangan itu sendiri.  Batasan itu berupa pengendalian diri. Meskipun demikian, pengendalian diri ini bukan berarti meninggalkan kesenangan.  Misalnya, orang yang sungguh-sungguh mau mencapai nikmat sebanyak mungkin dari kegiatan makan dan minum bukan dengan cara makan sebanyak-banyaknya atau rakus, tetapi harus dikendalikan/dikontrol agar mencapai kenikmatan yang sebenarnya. 

Epikuros lahir tahun 342 SM di kota Yunani, Samos, dan meninggal di Atena tahun 270 SM.  Ajaran Epikuros menitikberatkan persoalan kenikmatan. Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan.  Namun demikian, bukanlah kenikmatan yang tanpa aturan yang dijunjung Kaum Epikurean, melainkan kenikmatan yang dipahami secara mendalam. Kaum Epikurean membedakan keinginan alami yang perlu (seperti makan) dan keinginan alami yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), serta keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan/harta yang berlebihan).Keinginan pertama harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menyebabkan kesenangan yang paling besar. Oleh sebab itu kehidupan sederhana disarankan oleh Epikuros.  Tujuannya untuk mencapai ''Ataraxia'', yaitu ketenteraman jiwa yang tenang, kebebasan dari perasaan risau, dan keadaan seimbang.

Epikuros sangat menegaskan kebijaksanaan (phoronesis). Menurutnya, orang yang bijaksana adalah seorang seniman yang dapat mempertimbangkan pilihan nikmat atau rasa sakit.  Orang bijaksana bukanlah orang yang memperbanyak kebutuhan, tetapi mereka yang membatasi kebutuhan agar dengan cara membatasi diri, ia akan mencapai kepuasan. Ia menghindari tindakan yang berlebihan. Oleh karena itu, ada sebuah perhitungan yang dilakukan oleh Kaum Epikurean dalam mempertimbangkan segi-segi positif dan negatif untuk mencapai kenikmatan jangka panjang dan mendekatkan diri kepada ataraxia

Kebahagiaan yang dituju oleh Kaum Epikurean adalah kebahagiaan pribadi (privatistik). Epikuros menasihatkan orang agar tidak mendekatkan diri kepada kehidupan umum (individualisme). Ini bukanlah egoisme. Menurut Epikuros, kebahagiaan terbesar bagi manusia adalah persahabatan. Berkumpul dan berbincang-bincang dengan para kawan dan membina persahabatan jauh lebih menguntungkan dan membantu mencapai ketenangan jiwa. (Wikipedia)

Dari uraian tentang Hedonisme diatas maka manusia pada hakekatnya memiliki semua apa yang disampaikan diatas tinggal bagaimana kita mampu untuk tidak sampai menjadi seorang Hedonisme. Selain beberapa pemikiran daripara tokoh filsuf diatas menurut saya maka ada baiknya juga kita manusia yang memiliki rasa malu yang memang ada pada setiap manusia yang diperoleh lewat pendidikan agama dan budaya ini lebih diperkuat dengan cara selalu mau membuka diri dan sungguh sunggu mau melaksanakan semua hal hal baik yang diterima dari pendidikan yang bersumber daripada kedua ajaran diatas baik agama maupun budaya. Berikut ini beberapa hal yang seharusnya kita merasa Malu jika melakukannya sbb :
 
1. Malu korupsi uang fee-fee ilegal yang bukan hak kita
2. Malu korupsi waktu dalam pekerjaan dan waktu untuk keluarga kita
3. Malu memberi imbalan/menyogok kepada siapaun diluar aturan yg berlaku
4. Malu melakukan tindakan yg tidak sesuai dengan norma agama dan budaya kita
5. Malu tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan salah kita

6. Malu tidak mengajarkan budaya malu kepada anak cucu kita

7. Malu membuat nota-nota dan laporan fiktif
8. Malu memiliki harta kekayaan dari hasil korupsi

9.Malu melakukan punggutan liar
10.Malu sebagai dosen menjual nilai dan ijasah kepada mahasiswa
11.Malu membeli gelar-gelar palsu
12.Malu menjadi makelar kasus
13.Malu menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi atau menjadi milik pribadi
14.Malu tidak membayar pajak,listrik,air dan telepon
15.Malu melakukan pelanggaran lalu lintas
16.Malu mengebiri atau mengambil hak orang lain
17.Malu tidak melaksanakan kewajiban kita
18.Malu tidak menjaga dan melestarikan lingkungan
19.Malu membuang sampah dan merokok disembarang tempat
20.Malu melakukan explorasisi alam seperti ilegal logging
21.Malu melakukan Kolusi dan Nepotisme
22.Malu berbohong
23.Malu membeli barang bajakan dan mengambil hak cipta orang lain
24.Malu menyontek
25.Malu melakukan tindakan tidak prosedural seperti tidak antri
26.Malu berbisnis dan berusaha ilegal
27.Malu melakukan tindakan asusila seperti kawin cerai, sex pranikah, hubungan gelap dll
28.Malu melalaikan tugas dan tanggung jawab yg diberikan kepada kita
29.Malu kalau tidak belajar untuk menjadi lebih pandai
30.Malu sebagai lembaga/tokoh agama menerima sumbangan,sedekah,derma dari uang hasil korupsi
31.Malu sebagai lembaga/tokoh agama sengaja menempatkan orang orang dijabatan jabatan pemerintah untuk menjadi donatur dari hasil korupsi

Masih banyak lagi hal-hal malu lainnya, mudah-mudahan dengan terciptanya rasa malu yang dapat dibentuk lewat pendidikan baik di sekolah maupun pendidikan yang dilakukan oleh lembaga dan tokoh agama, budaya serta ditunjang oleh sistem pemerintahan serta perangkat hukum yang baik maka dapat secara perlahan terjadi perubahan sehingga kita tidak terjerumus dalam sikap hidup hedonisme.  Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi kita semua.


Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :