Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek
Budaya Harakiri Vs Budaya Tabeya
 
 
 
Oleh, Dr. Fabian J. Manoppo
Seppuku (切腹) merupakan salah satu adat para samurai, terutama jenderal perang pada zaman bakufu yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Seppuku lebih dikenal dengan istilahharakiri dalam bahasa Inggris dan jika di tulis dengan huruf jepang kanji 腹切り. Contoh gambar diatas ini menunjukkan seorang pejuang yang akan melakukan seppuku / Harakiri (Sumber: Wikipedia). Dimana salah seorang pahlawan samurai terkenal yang melakukannya dan sempat saya kunjungi makamnya di Kagoshima adalah SaigoTakamori.

Bangsa Jepang hingga saat ini bisa menjadi salah satu bangsa terbesar di dunia salah satu faktor penting adalah disebabkan adanya budaya Harakiri ini yang dari dulu sampai saat ini masih terus ditanamkan kepada anak cucu mereka serta dipraktekan langsung disemua sektor kehidupan masyarakat Jepang. Bukti-bukti ada cukup banyak terakhir dilakukan oleh Perdana Menteri Hatoyama yang baru berkuasa 9 bulan sejak diangkat September 2009 langsung mengundurkan diri karena dia tidak bisa mewujudkan salah satu janji saat kampanye dimana Hatoyama akan memindahkan Pangkalan Udara AS di Okinawa, karena banyak dikeluhkan warga lokal. Keluhan tersebut terutama tentang polusi udara dan kebisingan yang diakibatkan oleh pesawat-pesawat AS. Akan tetapi, karena tidak mendapatkan lokasi altematif, Hatoyama memutuskan untuk tidak memindahkannya, walaupun tidak sampai melakukan Harakiri. Semasa studi master, doktor dan bahkan postdoctoral fellowship hampir 7 tahun tinggal di Jepang sempat saya berbicara dengan teman-teman mahasiswa asing lainnya semua mengakui kehebatan bangsa Jepang termasuk bagaimana mereka mengatasi masalah besar saat ini dengan mandiri mereka berusaha mengatasi masalah gempa, tsunami dan nuklir dan lebih hebat sekaligus terharu untuk mengatasi masalah bahaya penyebaran radiasi nuklir ada cukup banyak relawan yang siap mati meninggalkan keluarganya. Dari sisi kehidupan moral mereka sungguh jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Negara kita yang notabene mengaku sebagai orang-orang yang beragama dan rajin beribadah buktinya tingkat korupsi, pelayanan dikantor dan jasa, disiplin berlalu lintas, kehidupan sosial kemasyarakatannya salah satunya penghormatan anak-anak kepada orang tua, yang muda (Kouhai) terhadap yang tua (Sempai).

Pertanyaan yang muncul adakah budaya lokal seperti ini di Indonesia yang bisa dijadikan sebagai salah satu faktor dalam membangun budaya yang dapat menimbulkan rasa bersalah,gagal dan menimbulkan rasa malu serta ingin menjaga nama baik sehingga berani melakukan Harakiri. Sepanjang yang penulis ketahui hampir tidak ada. Budaya yang paling baik dan dimiliki hampir semua suku bangsa di Indonesia adalah budaya Gotong Royong yang positif dijaman dahulu dimana saat ini telah mengalami evolusi kearah negatif menjadi Budaya Korupsi Kolusi dan Nepotisme berjamaah.

Agama yang seharusnya menjadi primemover dalam menanamkan kehidupan Moral dan akhlak yang baik telah banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggun jawab sehingga banyak mengalami distorsi dalam ajarannya sehingga terjadi degradasi iman dari para penganutnya. Langkah yang paling baik saat selain melakukan perkuatan dan perbaikan dalam metode pendidikan agama adalah melakukan upaya menggali kembali semua budaya-budaya positif yang ada dimasa lalu contohnya Budaya Tabea pada suku Minahasa di Sulawesi Utara. Dimana pada saat itu setiap kali orang bertemu dijalan mereka biasanya akan mengucapkan kata Tabea yang artinya sapaan rasa hormat biasanya dari yang muda terhadap yang tua dan mengandung arti juga selamat pagi, siang dan meminta atau permisi jalan.

Dampak dan pengaruh dari budaya Tabea ini adalah terbentuknya budaya hormat anak kepada orang tua, yang muda terhadap yang tua serta menjaga sikap kekeluargaan dimana saat ini sifat-sifat seperti ini semakin hilang. Budaya Tabea memang tidak seperti budaya Harakiri karena ini bertentangan dengan ajaran agama sehingga tidak bisa ditiru dan diterapkan di Indonesia, namun dengan membangkitkan kembali semua budaya-budaya lokal yang ada disetiap suku bangsa di Indonesia seperti budaya Tabea ini maka penulis yakin kita bisa menjadi bangsa yang besar seperti bangsa Jepang khusunya dalam mengatasi masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang sudah meraja rela dan tampa mengenal rasa bersalah dan malu.

Cara mengembangkan budaya-budaya lokal seperti ini ialah dengan memasukkannya dalam kurikulum lokal disekolah sekolah sejak TK, SD, SMP dan SMU bahkan sampai Perguruan Tinggi, dalam pendidikan agama serta langsung diaktifkan kembali didesa-desa yang sudah meninggalkannya, dikota-kota besar dapat dipraktekan didikantor-kantor pemerintah maupun usaha-usaha yang berhubungan dengan pelayanan jasa terhadap masyarakat. Kiranya pemerintah dan seluruh masyarakat kita dapat menggali budaya-budaya lokal yang telah hilang dan diaktifkan kembali untuk dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari sehimgga dapat mereduksi masalah-masalah besar bangsa Indonesia saat ini seperti KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) serta degradasi Moral bangsa. Cara ini adalah merupakan cara yang paling murah untuk mengatasi masalah-masalah yang saya sebut diatas. Semoga bermanfaat.

 
 
Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :