Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek

Melahirkan Generasi Petarung Ala Jepang

Oleh, Fabian J. Manoppo

Pada akhir masa pengeboman sekutu atas Jepang, yang ditandai dengan jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, praktis seluruh wilayah Jepang mengalami kehancuran total. Dalam situasi yang suram itu, kaisar Jepang saat itu, Kaisar Hirohito, melakukan inspeksi keliling untuk melihat secara langsung kondisi rakyatnya.

Ada satu pertanyaan yang diajukan sang kaisar kepada stafnya, yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Jepang sampai detik ini. Kaisar bukan menanyakan berapa jumlah pabrik yang tersisa, berapa jumlah bank yang masih buka, atau berapa jumlah rumah yang masih berdiri. Satu-satunya pertanyaan beliau adalah, Berapa jumlah guru yang masih kita punyai?. Kalimat ini terucap setelah Jepang porak poranda akibat perang. Seandainya Indonesia khususnya SULUT berani melakukan ini maka satu langkah yg tepat, namun perlu diketahui untuk menjadi bangsa yg besar bukan saja hanya menyediakan anggaran yg besar, sementara penggunaannya tidak tepat dan tujuannya tidak jelas atau bahkan rawan penyelewengan maka semuanya akan mubasir, berikut ini saya bandingkan antara Jepang dan Indonesia bagaimana menjadikan/Membentuk Sumber Daya Manusia Berkualitas,Ungul untuk bersaing di era Globalisasi dan Kapitalis atau saya sebut GENERASI PETARUNG dari sisi Pendidikan dan Kesehatan sbb :

I. Fase Kritis Pembentukan Fisik dan Otak anak (Anak berada di kandungan - sampai berumur 5 tahun)

@ Jepang : Sejak di kandungan anak2 telah disuply gizi yg cukup lewat orang tuanya seperti susu, melahirkan dibebaskan dari biaya bahkan mendapat uang biaya persalinan, anak2 sampai dengan usia 5 tahun mendapat tunjangan/bebas biaya dalam pemeriksaan dan fasiltas kesehatan, pengontrolan rutin disekolah berat badan,tinggi badan serta makanan yg bergisi rata2 sampai sekolah dasar mendapat makanan yg bergisi disekolah minimal setahun sekali orang tua mendapat laporan kesehatan anak dan makanan yg akan dimakan, Pendidikan sejak usia sekolah di play group sampai sekolah dasar anak2 dididik Moral,kreativitas, mandiri, tidak konsumtif serta enterpreneurship/wirausaha seperti kesekolah dalam jarak < 1km harus jalan kaki, menggunakan tas sekolah yg hanya sekali pakai, pendidikan ilmu2 dasar langsung dengan praktek bagaimana membuatnya kemudian bagaimana menjualnya karya dibuat sendiri dan pemasaran belajar dari kunjungan ke pabrik2 dan pusat2 bisnis, anak2 yg salah mendapat hukuman tanpa pandang bulu,anak2 sejak dini diajar mencintai lingkungan dan binatang2, waktu belajar disekolah dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, sekolah memiliki fasilitas gedung, alat belajar mengajar,olahraga dan seni yg hampir sama dan memiliki standar, jumlah jam belajar extrakulikuler hampir semua bidang tersedia dan selalu ada kompetisi serta dilatih oleh guru2 yang professional, dengan demikian sejak usia dini anak2 sudah dilatih untuk menciptakan dan berkompetisi berjuang menjadi yg terbaik. Untuk menjadi guru melalui proses yang sangat ketat

@Indonesia : Silahkan kita bandingkan sendiri dengan kondisi diatas bagaimana system pendidikan di Indonesia khususnya pelayanan kesehatan dan pendidikan secara singkat untuk kesehatan kurang perhatian dari pemerintah hanya ada Posyandu, Olahraga masih kurang, budaya konsumtif anak2 berlomba2 menggunakan tas dan fasilitas sekolah yg bermerek, kesekolah maunya diantar jemput,fasilitas sekolah yg kurang serta kualitas guru yg kurang, jam pelajaran yang kurang dll

II. Fase di sekolah SMP ,SMU dan Universitas

@Jepang : Sistem pendidikan yg kreatif, bebas mengexplorasi ilmu dan ketat serta entrepreneurship serta fasilitas pendidikan gedung,laboratorium serta kegiatan extrakulikuler yg baik serta ditunjang oleh guru dan dosen yg professional sebagai contoh untuk mengajar di Universitas harus minimal Doktor dan Professor Doktor yg telah memiliki pengalaman penelitian yg banyak, disiplin serta kompetisi yg ketat hampir selalu dilakukan sehingga banyak yg setelah lulus SMA langsung terjun menjadi pemain professional seperti di sepakbola, baseball dll karena hobbi dan bakat anak2 dapat disalurkan di sekolah2. Kesehatan juga mendapat perhatian walaupun tidak seperti pada Fase I. Untuk masuk SMP,SMU atau Universitas harus lolos standard test yg ketat anak2 yg tidak mampu diarahkan kependidikan professional seperti SMK dll. Standar olah raga yg sangat ketat selama jam sekolah dari jam 8 pagi – jam 4 sore diisi dengan kegiatan olah raga sesuai bidang pilihan masing2 murid, pendek kata hampir semua kegiatan extrakulikuler baik olah raga maupun kesenian disediakan oleh pihak penyelenggara pendidikan, sehingga hampir seluruh waktunya terserap pada kegiatan2 positif karena setelah pulang dari rumah rata2 mereka sudah lelah dengan kegiatan di sekolah masing2.

@Indonesia : Waktu belajar sangat singkat hanya dari jam 7 – jam 1 siang, olahraga sangat terbatas demikian juga control kesehatan, pelajaran lebih banyak berbasis menyelesaikan Kuota Kurikulum standar yg harus diselesaikan sehingga nilai kreatifitas anak2 berkurang, sangat kurang terhadap praktek2 lapangan sebagai aplikasi dari ilmu yg dipelajari di sekolah, konsumtif serta kolusi dan nepotisme serta korupsi sering masih melanda system pendidikan kita, fasilitas gedung,olahraga, kesenian yg masih jauh dari standar, kualifikasi guru, dosen yg kurang akibat system perekrutan yg tidak ketat, pendidikan moral yg tidak diberikan sejak kecil akibat praktek2 salah dalam system pendidikan kita, system pendidikan kita yg kurang berjiwa entrepreneurship dengan kurang menghasilkan karya serta kemampuan untuk menjadikan nilai bisnis dari karya2 yang ada.

Kesimpulan :

Dengan melihat dari dua system yg ada maka dapat dilihat bahwa Jepang lebih berpeluang memiliki Sumber Daya Manusia yg Unggul, Tangguh atau GENERASI PETARUNG dan tidak cengeng dibandingkan dengan Indonesia.

Semoga bermanfaat


Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :