Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek

Diskusi Masalah Pemancangan Pondasi Tiang Pancang


 
Oleh, Fabian J Manoppo, dkk
 
Dibawah ini adalah diskusi yang terjadi di Mailing List Alumni IKAFT Jakarta atas permasalahan Pemancangan Tiang Pancang yang dialami oleh rekan kita sbb :
 
Tanggapan : Fabian J Manoppo
 
Dear, pak Sudirman P
 
Sedikit penjelasan teory pondasi Tiang Pancang sbb:
 
1. Tiang Pancang Memikul beban/daya dukung/ultimate bearing capacitynya diperoleh melalui Tahanan Samping (Shaft Resistancy) dan Tahanan Ujung (Tip Resistancy)
Qu = Qs + Qt (Tergantung dari jenis tanah,luas ujung tiang,keliling,dll)
 
2. Tiang Pancang menurut distribusi beban dibagi atas 
 a. Friction Pile (Tiang Pancang Tahanan Samping) hal ini jika daya dukung tahanan ujung (tip resistancy) tiang sangat kecil mendekati nol dapat terjadi pada kasus tiang pancang baja H pile (luas permukaan tiang yg kecil) atau daya dukung tanah (c dan phi) sangat kecil diujung tiang sehingga daya dukung tahanan samping yg lebih besar
b. End bearing pile ( Tiang Pancang Tahanan Ujung) kebalikan dari friction pile
 
Adalah keliru jika kita belum mengetahui jenis tanah, jenis pondasi kemudian menghitung daya dukungnya dan kita langsung menentukan Friction Pile/End Bearing Pile harus memenuhi salah satu kondisi diatas baru bisa ditentukan jenisnya ini yg umum dipahami dilapangan sampai saat ini
 
3.Jenis Material Tiang Pancang antara lain :
- Kayu, baja,concrete(prestress,cast in situ) dll
 
4. Cara instalasi TP:
- Driven, Bored, Jack, Vibration, Screw,Jetting dll
 
5. Bentuk penampang tiang pancang :
- Hollow Pile, Spun pile, heksagonal, triangel, square,franki pile dll 
 
Dari sedikit pengantar teori diatas maka menjawab pertanyaan pak Sudirman sbb:
Pertanyaan saya berapa End Bearing Capacity dalam kPa (kN/m2) untuk Bored pile dan Spun pile kalau kita menggunakan nilai SI dari nilai Standard Penetration Test (N-SPT).
 
bahwa Bored pile adalah Metode instalasi sedangkan Spun pile adalah bentuk jenis pile maka tidak bisa dibandingkan secara langsung sementara untuk daya dukung tiang pancang/bearing capacity mana lebih kuat tergantung dari jenis tanah, jenis pondasi, ukuran pondasi sementara untuk kekuatan material( material strenght) tergantung material serta metode pembuatan (prestresed concrete, cast in situ).
 
Catatan untuk SPUN Pile bentuk ujung (Shoe) nya ada beberapa bentuk penampang http://www.scib.com.my/pdf/SCIB%20Prestressed%20Spun%20Piles.pdf sehingga luas penampang ujungnya akan berbeda.
 
Jika menggunakan data SPT maka gunakan rumus daya dukung tiang menggunakan data SPT disesuaikan dgn luas penampang Ujung SPUN pile
 
Daya dukung tiang pancang tidak boleh melebihi tegangan ijin dari material tiang pancang untuk ini ada bebrapa standar yg bisa diikuti
 
Demikian sedikit penjelasan saya semoga bermanfaat
 
Sent from my iPad

On 30 Apr 2012, at 15:03, Sudirman Pulukadang <dirmanp@gmail.com> wrote:
 
 
Tanggapan : Sudirman Pulukadang 
 
Dear DR. Fabian
 
Pas ada disini, kita kote ada pertanyaan kebetulan dua Geotechnical Engineer di Konsultan tempat saya bekerja punya asumsi yang berbeda dalam menentukan End Bearing Capacity untuk Bored Pile dan Spun Pile. Sengaja saya tidak munculkan disini asumsi mereka karena saya mau tanya langsung dari seorang pakar, kawan2saya itu bukan doktor, makanya saya anggap yang Doktor lebih pakar apalagi sudah dilengkapi dengan banyak pengalaman.
 
Pertanyaan saya berapa End Bearing Capacity dalam kPa (kN/m2) untuk Bored pile dan Spun pile kalau kita menggunakan nilai SI dari nilai Standard Penetration Test (N-SPT).
 
Sebelumnya terima kasih atas jawabanya.
 
Sudirman P.
KL

 Tanggapan : Salun Gumalangit

 
Dear Rekan rekan dan kakak Alumni

Terima kasih atas saran dan usulan yang di sampaikan, dan untuk lebih jelasnya
1. Data penyelidikan tanah dua kali dilaksanakan, pertama oleh
konsultan perencana, yang dipakai untuk perencanaan,
2. Data penyelidikan tanah dilaksanakan sebelum pelaksanaan
pemancangan, dan di ambil pada 2 titik di 2 lokasi rencana pondasi
tersebut di laksanakan.
3. Dari kedua data tanah tersebut tidak banyak perubahan yang berarti,
yaitu nilai N-SPT pada kedalaman 2-2,4m = 20, 4 - 4,4 m = 23, 8-8,8 m=
26, 14-14,37 m=26, 18-18,34 m= 50, 22-22,29 m=56, 32-32,45m lebih
besar 60,40-40,22 = 60.
4. Dilapangan juga dilaksanakan tes pile seperti yg kami sampaikan
sebelumnya, permasalahan yang timbul sebenarnya adalah metode
pelaksanaan, yaitu menggunakan alat pancang Hammer, hasilnya sesuai
dengan rencana namun dampaknya yang bermasalah. Menggunakan Jacking
pile, kedalaman hasil tes pile jauh dari rencana,
5. Solusi pertama, adalah revisi design dengan Bore pile, namun
terkendalah Biaya, solusi kedua kapasitas alat pancang dengan metode
jacking perlu lebih besar dari 350 ton, kalau bisa minimal 650 ton,
dengan pertimbangan saya adalah jika Menggunakan Jacking pile, tahanan
geser awal semakin membesar apabian tiang pancang yg masuk kedalam
tanah makin panjang ( luas permukaan tiang makin besar), bahkan akan
melebihi tahanan geser rencana karena tiang pancan masuk kedalam tanah
secara perlahan. ini salah satu kemungkinan mengapa tes pile sudah
berhenti pada batas beban maximum alat pancang jacking pada kedalaman
yg bukan diharapkan.
6. masalah berikutnya adalah tahanan geser awal tadi, apakah akan
berkurang/ menurun seiring dengan waktu jika tiang pancang tersebut
tetap dipakai sebagai pondasi. jika ini terjadi maka kegagalan
struktur kemungkinan besar terjadi. karena tiang tersebut belum
mencapai tanah keras ujungnya.

Memang tidak menutup kemungkinan ada Konsultan Perencana yang
bertindak seperti apa yg disampaikan DR. Fabian, tapi kemungkinannya
sangat kecil untuk proyek dengan nilai diatas 150 M.

Salam

Salun
 
 

Tanggapan : Fabian J Manoppo

 
Dear,all 
 
sekilas membaca masalah yg dihadapi oleh Salun G semakin menambah problem CUT and Paste desain bangunan bawah (Pondasi) struktur bangunan teknik sipil, saya pikir cuma di daerah ternyata juga di Jakarta terjadi. DiSulut saya pernah menemukan bebrapa bangunan vital mengalami hal yg sama dgn ini dan setelah saya minta desain perhitungannya langsung ke tahuan C&P. Kenapa saya katakan demikian karena jika itu didesain secara benar oleh seorang ahli Geoteknik lebih khusus Pondasi maka hal ini tidak akan terjadi dengan dasar sbb:
1. Sebelum Pelaksanaan Pekerjaan Pondasi Wajib dilakukan pemerikasaan sifat fisik dan mekanik tanah baik di laboratorium & di lapangan
2. Hasil pemeriksaan tanah ini maka akan ditentukan jenis pondasi serta metode instalasi pondasi yg sesuai dengan data tanah dan kondisi lingkungan sekitarnya
3. Sebelum pekerjaan dimulai utk bangunan penting wajib dilakukan loading test(static or dinamic test)
 
 
Jika 3 langkah diatas dilakukan dengan baik dan sesuai dengan standart desain yg ada maka kejadian yg dialami Sdra Salun G sangat kecil kemungkinan terjadi.
 
Jadi kesimpulan saya sementara desain bangunan bawah tersebut tidak didesain oleh seorang ahli dibidang Geoteknik/ Pondasi
 
Langkah2 yg bisa dilakukan sbb:
1. Redesain perhitungan daya dukung pondasi serta metode instalasi pondasi menggunakan data pemeriksaaan tanah yg baru minimal SPT test sampai kedalaman min 30m 
2. Metode instalasi Tiang selain driven/pancang bisa menggunakan Bored,Vibration,Screw atau Jet silahkan disesuaikan dengan ketersediaan alat dan biaya
 
Demikian sedikit komentar saya semoga bermanfaat

Sent from my iPad

Tanggapan, Salun Gumalangit

  Dear Mneer Sudirman, Rolof, Raymond.

Pertama, saya mengucapkan terima kasih atas saran dan usulan mengenai
masalah yang sedang saya hadapi,
Untuk Mner Sudirman, saran dan usulan bpk, saya perna sampaikan agar
alternatif pondasi menggunakan Bore Pile, namun pertimbangan pemilik
lebih kearah biaya, dan untuk pak Rolof, pelaksanaan test pile dengan
menggunakan jacking pile, kayaknya alatnya perlu di ganti dengan
kapasitas 600 ton mengingat faktor koreksi terhadap exentrisitas alat
terhadap titik pancang. tlg di infokan pemilik alat jacking pile di
Jabotabek yang kapasitasnya 600 ton. dan Untuk Mner Raymond, Sudirman
memang betul perlu ada aturan tertulis agar bangunan baru di daerah
perkotaan di larang menggunakan pondasi Tiang Pancang, dan di wajibkan
menggunakan pondasi Bore Pile.
Ini sangat perlu mengingat pertimbangan teknis seperti ini kadang
kadang tidak di pahami oleh pemilik proyek terutama swasta yang
pertimbangan utama mereka adalah biaya.

Terima kasih, semogan apa yang disarankan kepada kami menjadi tambahan
pengetahuan dalam pelaksanaan suatu proyek.

Salun G
Tukang

Tanggapan : Raymond Kemur

> Kalau negara2 maju termasuk Singapore di sue kalau pekerjaan konstruksi apa
> pun mengakibatkan damage bangunan tetangga. Dalam handout/bahan tayangan
> Pelajaran/ bahan kuliah salah satu penulis buku tiang pancang cukup terkenal
> yang sudah dibuat buku dan dijual disamping texbooknya yang juga ngajar di
> Universitas di Singapore (waktu kita juga masih kuliah di Fatek Unsrat,
> bukunya bahan kuliah tsb masih dipinjam Alex Binilang sampe skrg) disitu ada
> ttg masalah2 yg harus dihindari dan ada guntingan2 koran ttg masalah tsb dan
> masalah hukum sampe ke pengadilan di Singapore krn pemancangan tiang pancang
> yang mengakibatkan damage (retak atau akibat lainnya) terhadap bangunan
> didekatnya. Itu masih akhir thn 70an atau awal 80an sudah begitu peraturan
> atau legal aspek konstruksi.
> Kebetulan buku2 tiang pancang sebagian besar belum sempat dibawa ke Jkt
> (baru dua dan peraturan2nya saja) krn tiap kali ke Manado pas balik dibawa
> buku yg urgen duluan. Khusus bahan kuliah tiang pancang dari ahli tsb di
> Singapore Alex Binilang belum mau kembalikan, masih ditahan krn masih perlu
> kata, hahaha.
> Demikian share dari kami.
>
> Regards,
>
>
> Raymond Kemur
>
 
Tanggapan Sudirman Pulukadang

> Dear Salun,
>
> Kesan awal, saya designer nya kurang peka terhadap keadaan lingkungan
> sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitar pada saat menetapkan system
> pondasinya. Dimana saja di dunia ini yang namanya tiang pancang menggunakan
> hammer seperti spun pile atau square pile tidak diizinkan untuk digunakan di
> lingkungan yang ada bangunan lain karena getaran yang timbul saat driving
> pilenya selalu mengakibatkan retak2 pada bangunan sekitarnya.
>
> Jacking pile adalah salah satu alternative tetapi biasanya ada kelemahannya
> karena lapisan tanah sulit si scan sehingga hasilnya berbeda dengan harapan
> kedalaman sesuai dengan Soil Investigation (SI) Report tanah dilokasi. Untuk
> meyakinkan, mungkin saja jacking capacity nya harus ditambah lagi untuk
> melakukan pemacangan sesuai kedalaman pile yang diinginkan. Kalau pilenya
> sudah mentok, maka pada pile yang sudah di pancang tapi belum mencapai
> kedalaman yang sebenarnya, bisa dilakukan static test pile dengan beban
> biasanya 2.5 kali beban rencana. Kalau itu sudah memenuhi artinya kebutuhan
> pila disitu sudah cukup dan jika kapasitas bebannya tidak terpenuhi, maka
> harus dicari alternative lain.
>
> Alternative lain adalah Bored Pile. Ini adalah umum digukan untuk proyek
> yang dibangun di tengah kota dimana effect getarnya tidak sebesar pada spun
> pile karena, lobang pile di gali dulu sebelum dimasukkan tulangan untuk di
> cor bersama2 dengan pilenya. pengecoran system ini juga ada yang menggunakan
> bentonite, ada yang menggunakan temporary casing. Untuk proyek dalam kota
> disarankan menggunakan bentonite karena temporary casing dalam
> pelaksanaannya mengakibatkan getaran kalau drivingnya menngunakan hammer.
>
> Saran untuk konsultan klu melakukan perencanaan struktur dalam kota
> sebaiknya dihindari meggunakan spun pile atau square pile karena dalam
> pelaksanaannya biasanya akan mengganggu tetangga selain bising, juga rumah2
> dan gedung tetangga akan retak2. Saran untuk kontraktor, sebelum menerima
> proyek yang ditawarkan, semestinya dianalisa dulu sistem pelaksanaannya pada
> saat aanwijsing kalau konsultanya lupa bisa disarankan untuk menggunakan
> komponen yang sesuai degan keadaan lapangan.
>
> Semoga bermanfaat.
>
> Sudirman Pulukadang
> Kuala Lumpur

 
Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :