Oleh, Tomy Bawulang

(Background s1 Unima, S2 The Flinders University Australia (leadership and Management, 2007-2009) ; PhD Candidate in Leadership, Organizational learning and Behaviour (Flinders University, Australia, 2011- 2015); Professional Education: Organizational Development and Human Resources Specialist (Vanderbilt University - USA 2011-2012); Indonesian Ambassador for Hubert Humphrey Fellowship USA, 2011-2012)

Brand atau dalam terjemahan bebasnya ‘merek’ telah menjadi kebutuhan mendasar bagi dunia industry. Dulunya kebutuhan akan branding hanya terbatas pada produk produk dalam bentuk barang seperti elektronika, otomobile, makanan, kosmetik dll. Seiring perkembangan revolusi pasar global, hari ini hampir seluruh aspek kehidupan manusia seakan telah membutuhkan ‘branding’ untuk dapat eksis di dunia global market. Branding malah telah dimulai dari individu yang kita kenal dengan istilah personal branding.  Salah satu fenomena menarik adalah bahwa ‘Branding’ telah menjadi kebutuhan bagi Kota dan wilayah teritori pemerintahan untuk menciptakan image tentang kota atau daerah mereka. Meski hal ini bukanlah hal baru di Indonesia,  bagi daerah daerah yang jauh dari kawasan Industri besar dan megapolitan trend dan kebutuhan akan branding baru saja memasuki babak awal. Tulisan ini akan membahas beberapa hal terkait “branding” khususnya ‘destination brand’ utk pariwisata. Semoga bisa memberi inspirasi bagi teman teman di Pemkab SITARO (dan mungkin juga SANGIHE) yang saat ini sedang dalam proses perumusan Strategi Pengembangan Pariwisata (RIPPDA)

 Beberapa prinsip sederhana tentang Branding

 Unik dan memiliki keunggulan bersaing (Competitive Advantage)

 Tujuan utama branding adalah agar daerah kita dikenal. Makanya prinsip branding untuk tujuan wisata haruslah  unik serta memiliki keunggulan bersaing dalam lingkup market yang sejenis. Di dunia ini terlalu banyak tempat yang indah untuk dipromosikan sebagai tempat wisata, beribu ribu pantai, beribu ribu air terjun, taman laut, tempat bersejarah, kuliner, dan objek wisata lainnya. Itulah sebabnya prinsip unik menjadi penting untuk kita kedepankan. Pertanyaan yang harus di jawab adalah “Apa bedanya dengan yang lain?” Jika kita tidak sanggup menemukan keunikan kita, maka kita tidak memiliki alasan yang kuat untuk melakukan ‘branding’. Logikanya adalah untuk apa orang jauh jauh datang ke tempat kita hanya untuk mengunjungi tempat yang ada di tempat mereka, atau lebih dekat dan lebih murah dari tempat mereka? Salah satu contoh real yang sering saya ungkapkan dlam diskusi diskusi tentang pengembangan pariwisata adalah, "apa yang kita jual di pantai Pananualeng? pantainya? jika hanya pantai yg sepenggal seperti itu, orang tidak akan datang jauh jauh hanya untuk itu".

 Jika kita memang tidak bisa menemukan keunikan kita maka kita wajib menemukan “keunggulan bersaing” (competitive advantage) yang kita miliki dibanding tempat lain. Hal ini terutama lebih berkaitan dengan kreatifitas pengelolaan dan pelayanan. Pantai boleh sama tapi pelayanan, metode dan pendekatan dan strategi pemasarannya haruslah  berbeda. Belajar dari manajemen  wisata seperti di Negara Thailand yang berhasil mendominasi listing teratas destinasi wisata di negara negara ASEAN, mereka tidak hanya menjual potensi destinasi wisata dengan hanya mangandalkan objek objek “as it is” tapi menjual "competitive advantagenya" lewat strategy pemasaran pariwisata yang disusun secara cerdas dengan mempertimbangkan pesaing pesaing dlm dunia industry pariwisata (existing and new emerging markets), perkembangan dalam social media, konsumsi yang dipengaruhi oleh teknologi (technology-driven consumption), serta peningkatan kebutuhan dunia akan produk produk wisata ramah lingkungan. Maka lahirlah konsep konsep pariwisata seperti  “New Heart for a Sustainable Thailand” yang merupakan produk wisata yang mengkombinasikan kekayaan dan keindahan alam serta upaya pelestarian lingkungan, atau  “edutourism” yang   menawarkan pengalaman belajar sejarah dan budaya bagi para turis. Semua paket paket wisata dengan keunggulan bersaing ini di jual di market dunia dengan branding sederhana “Amazing Thailand”. Hasilnya? Pada akhir tahun ini pendapatan dari sektor pariwisata di prediksikan akan mencapai $ US 14.5 Milyar. Jika kita bertanya apa pantai mereka lebih indah dari pantai kita? Apa danau mereka lebih indah dari danau di Makalehi? Jawabannya jelas tidak. Kekayaan alam kita tidak kalah bersaing. Kreatifitas untuk menentukan keunggulan bersaing kitalah yang akan menentukan posisi kita pada market pariwisata dunia.

 Terfokus, dikenal dengan satu hal dan memiliki daya tarik

Untuk menjadi terkenal, branding kita harus memfokuskan pada satu hal meskipun mungkin kita juga menawarkan pengalaman dan produk wisata lebih dari satu. Tapi memfokuskan branding pada satu hal akan membuat branding kita mudah diingat. Jangan membuat branding wisata dengan menawarkan slogan seakan akan kita memiliki segalanya. Orang tidak akan pernah mengingat branding kita, karena logikanya saat menetukan tempat berwisata tujuan orang adalah untuk mendapatkan pengamalan terhadap hal hal khusus. Fokus ini juga akan membantu kita dalam menyusun Strategic Marketing Action Plan terutama dalam melirik segment market kita. Perlu diingat, kita akan gagal dalam memasarkan pariwisata kita jika menggunakan pendekatan “a place for everybody” alias wisata untuk semua orang. Tapi kita akan mampu bersaing (prinsip competitive advatange) jika kita menggunakan pendekatan “A special place for  special people”. Dengan demikian daerah kita akan memiliki ‘appeal’, daya tarik tersendiri. Namun yang perlu diingat adalah keunikan yang kita perkenalkan haruslah tetap terjaga dan konsisten karena pada akhirnya seberapa unik branding yang kita buat, jika kita tidak konsisten maka tidak ada yg akan peduli. Contohnya,  Battle Creek Michigan yang ‘mem-branding’ sebagai tempat sarapan sereal terbaik, tapi ternyata mereka tidak sanggup konsisten dengan branding ini dan para pengunjung tidak menemukan pangalaman ini maka branding ini gagal. Berbeda dengan Hershey Pennsylvania yang konsisten dengan mem branding sebagai tempat cocklat terbaik, semua yg pernah kesana akan bercerita pengalaman ini. Pengalaman yang ‘hidup’ dan tersimpan dalam hati dan pikiran kostumer. Inilah branding yang berhasil.

 Tawarkan Pengalaman Nyata

 Hilangkan dalam benak kita bahwa wisatawan adalah mereka yang jalan jalan melihat lihat, mengambil foto atau kegiatan ‘passive’ lainnya. Konsep branding wisata harus mampu menawarkan pengalaman nyata bagi wisatawan. Contohnya, jika kita memiliki object wisata “industry anggur pala”, kenapa tidak kita menawarkan paket “experience the nutmeg winery”, memberi kesempatan bagi wisatawan untuk membuat anggur pala. Ini hanya contoh sederhana, intinya jangan melihat wisatawan sebagai subject passive. Beri mereka pengalaman nyata. Yakinlah mereka akan menceritakan pengalaman pengalaman ini kepada kerabat mereka.

 Masyarakat Lokal sebagai Real Brand

 Sebaik apapun market branding pariwisata kita pada akhirnya the real brand adalah masyarakat kita. Maka branding pariwisata juga mesti melibatkan masyrakat utk mengsukseskannya. Pemerintah tidak akan pernah berhasil tanpa kemitraan dengan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat mulai dari proses perencanaan sampai pada implementasi dan evaluasi strategi marketing pariwisata ini menjadi unsur yang fundamental dalam upaya menciptakan the real brand. 

 So Happy Branding SITARO,…!

 Tomy Bawulang


· · Share