Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek
Revolusi Pendidikan di Indonesia
 

 
 
Oleh : Dr.Fabian J Manoppo
 
Kebijakan menteri pendidikan dan para pemangku pendidikan tinggi pada proses penerimaan tamatan SMU untuk masuk kepergurunan tinggi sebaiknya perlu dikaji kembali agar proses seleksinya lebih diperketat. Hendaknya menteri pendidikan dan masyarakat Indonesia menyadari jenjang universitas adalah tempat menciptakan manusia dari tidak intelektual dan profesional dalam bidang ilmu tertentu menjadi Intelektual dan Profesional jadi lembaga pendidikan tertinggi seperti universitas bukanlah sebuah lembaga sosial yg menerima atau mengurus anak-anak bangsa ini untuk harus mendapat pendidikan tanpa persyaratan apapun ini adalah suatu metode yg keliru. Kondisi riil dilapangan kalu ditanyakana pada setiap dosen sangat dirasakan apalagi dosen yg pernah studi diluar negeri jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia problem utama adalah rendahnya mutu murid sejak SMU untuk masuk keperguruan tinggi dan ini sangat terasa untuk universitas di Indonesia timur, dari hasil test masuk contoh yang pernah kami lakukan untuk mata pelajaran matematika rata-rata hanya 1% yg layak lulus coba bayangkan ada yg masuk jurusan eksata hasil test masuk nilai matematikanya nol, saat ini pun kalau dites 1/2+1/3 masih banyak yg tidak tau. Banyak dosen yg mengeluh melihat hasil test/ujian semester walaupun notabene soal ujian hampir sama persis dengan contoh-contoh latihan tapi mereka tetap tidak bisa mencapai kelulusan.
 
Solusi yg baik pemerintah harus menyadarkan masyarakat bahwa masuk keperguruan tinggi itu untuk menghasilkan manusia Intelektual dan profesional dalam bidang-bidang ilmu tertentu. Pemerintah harus memberikan jaminan biaya pendidikan yg murah sesuai kemampuan pendapatan masyarakat kalau perlu pemerintah harus subsidi untuk masuk dan belajar di perguruan tinggi negeri khususnya perguruan tinggi negeri.Test masuk harus dilakukan untuk mencari Sumber Daya Manusia (SDM) yg berkualitas dan akan menjadi Primemover dibidang ilmu pengetahuan baik penelitian, penemuan dan terapannya. Sementara pemerintah juga harus meyakinkan bahwa untuk sukses dilapangan / hidup tidak hanya melalui jalur pendidikan sampai ke universitas, jalur SMK, Kursus, Pelatihan dan pendidikan jangka pendek lainnya kalau ini dilaksanakan dengan baik dan benar akan menjamin masa depan yg lebih baik kalu ditanyakan anak-anak di Jepang setelah besar ingin menjadi apa lebih banyak akan memilih menjadi pengusaha roti,bunga dll karena banyak orang yang sukses dari hasil pekerjaan ini dan profesi ini tidak perlu pendidikan sampai keuniversitas daripada ingin menjadi dokter, guru dll yang harus melewati jalur pendidikan diuniversitas .
 
Jangan dipaksakan SDM yg tidak mampu untuk belajar pada tingkat yg lebih sulit karena ini memerlukan dosen yg memiliki tenaga yg benar benar berkualitas. Kita boleh belajar dari Jepang sejak TK anak-anak lebih banyak diajarkan pada karya inovasi dengan membuat berbagai macam penciptaan barang dan berinteraksi dengan lapangan bukan menghafal membaca dan menulis selanjutnya sekolah SMP ada anak-anak sudah tidak direkomendasikan untuk masuk SMU harus ke SMK begitu juga ada lulus SMU tidak direkomendasikan masuk universitas sehingga yang benar-benar tamat dari universitas bukan sedikit dari mereka yang langsung memberikan karya penemuan dan penciptaan teknologi yg baru masih dalam usia muda bukan seperti kita di Indonesia seharusnya sudah masuk pada usia tidak produktif /pensiun masih ingin memaksakan diri untuk berkarya dimana sebaiknya tinggal menikmati hasil karya dan berkarya sesuai dengan kemampuan fisiknya untuk menikmati hari tuanya belum lagi dosen berlomba lomba ingin menjadi professor dan mendapat sertifikasi dosen (SERDOS) dengan kualitas yg masih jauh sebagai seorang professor dan dosen seperti diluar negeri dimana karya penelitian yang diakui didunia internasional sudah cukup banyak.
 
Anak-anak yg belum cukup umur untuk belajar misalnya dijepang tidak ada komproni/toleransi selama dia belum berumur 7 tahun dia tidak boleh masuk kelas 1SD,8 Tahun baru boleh kelas II SD. Di Indonesia berlomba-lomba sekolah membuka kelas percepatan, dan akibatnya saat ini ada anak baru berusia 14 tahun sudah di universitas apa resikonya anak tersebut tidak mampu bergaul dengan rekan-rekannya yg umumnya telah berumur diatas 17 tahun di universitas alhasil anak menjadi rendah diri dan prestasi akademiknya menurun. Seharusnya kalau pemerintah ingin membuka kelas khusus tidak harus banyak dan diseleksi dengan ketat dan hasil dari kelas khusus ini harus disertai dengan pembinaan mental phsykologis anak dan diberi fasilitas khusus untuk masuk di universitas terbaik jangan hanya buka dan dibiarkan. Belum lagi membahas materi pelajaran di SD, SMP , SMU yg lebih pada penyelesaian kuota materi pelajaran dari pada kedalaman materi dan pengertian lebih dalam dari setiap materi pelajaran sampai pada implementasinya, yg terjadi dilapangan guru-guru SD, SMP dan SMU lebih banyak mengejar selesai materi setiap semester dari pada memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bertanya dan bereksplorasi pada teori yg ada dan implementasinya seperti pengakuan anak-anak Indonesia yang belajar di sekolah Jepang kalau ditanyakan kepada mereka apa perbedaan belajar di Indonesia dan di Jepang mereka memberi jawaban seperti yg diuraikan diatas.
 
Oleh karena itu jangan heran saat ini masyarakat berlomba-lomba mengejar secarik kertas ijasah baik S1 sarjana maupun S2 master dan sedang merambah ke S3 doktor bukan untuk ilmunya lebih dari mengejar status tanpa memandang kedalaman ilmu yang diikuti seperti fungsi linear ilmu dari S1 ke S2 dan S3, lebih parah lagi didapatkan dengan cara membeli nilai kelulusan dari orang-orang yang memanfaatkan kesempatan dan kondisi seperti ini dan itu terjadi di universitas yang sudah cukup punya nama dan dilakukan oleh orang-orang yang  bergelar doktor dengan jabatan profesor. Ini semua memang bagaikan menarik benang kusut tapi harus diperjuangkan terus. Semoga menteri tidak jadi menjalankan keputusannya untuk membebaskan dari test masuk perguruan tinggi hanya karena ingin mengedapankan rasa pemerataan/sosial dan terlihat Populis.
 
Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, kenapa pendidikan di Indonesia sulit maju salah satu penyebabnya yaitu kita terlalu banyak sifat excuse / toleransi. Ide presiden untuk merobah cara belajar mengajar yg saat ini hanya satu arah sungguh sangat baik untuk ditunjang karena selama ini para dosen dan guru mengangap murid adalah keranjang kosong yg harus diisi keterlibatan murid sangat pasif dan ini perlu perjuangan keras karena dosen guru harus memiliki kemampuan lebih karena akan banyak muncul pertanyaan-pertanyaan kreatif dari murid dan ini yg paling tidak disukai oleh para dosen guru karena takut akan kelemahannya apalagi dalam benak dosen guru mereka yang maha tahu dan pemegang otoritas tertinggi dalam kelas malu kalau ketahuan tidak menguasai materi, sehingga kedepan mulai 2015 untuk menjadi dosen idealnya sudah harus bergelar Doktor S3 dan punya pengalaman meneliti dibuktikan dengan paper paper internasional. Untuk mewujudkan ini secepatnya pemerintah mulai merekrut lulusan S1 yang baik lulus Cumlaude untuk ditawarkan studi lanjut sampai Doktor untuk persiapan menjadi Dosen. Kampus harus benar benar steril dari politik tidak adalagi pemilihan Rektor yang sama dengan pemilihan walikaota atau gubernur memakai tim sukses apalagi money politic. Kiranya dengan dinaikkan anggaran pendidikan saat ini sekitar 405 Triliun akan semakin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Infrastruktur pendidikan laboratorium, ruang dosen/guru, ruang kelas serta fasilitas penunjang lainnya serta ratio dosen mahasiswa, persen keketatan mahasiswa mendaftar dan yg diterima harus sesuai ratio standar internasional, karena sampai saat ini masih jauh dari harapan dan terlebih penting kesejahteraan dosen paling tidak sama dengan Malasia sudah berkisar 10- 60jt/bln demikian juga untuk guru guru minimal harus bergelar Master S2. Semoga bermanfaat.
 
 
Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :