Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek

Silahkan di tulis mohon jangan ada unsur SARA


Nama:


Judul/Pengirim:


Renungan & Motivasi Hidup:




NamaJudul/Pengirim TanggalRenungan dan Motivasi Hidup
redaksiKetaatan yang Tak Bertangguh Bagikan2012-05-14Ketaatan yang Tak Bertangguh
Bagikan

Oleh: Kenia Oktavianie Bacaan: 1 Raja-Raja 13:1-34

"Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu."

Alkisah seorang abdi Allah dari Yehuda datang menemui raja Yerobeam untuk menyampaikan pesan Tuhan. Singkatnya Ia berhasil membuat sang Raja tertegur, bahkan mengadakan banyak mukjizat. Tetapi ada satu hal yang Tuhan perintahkan kepada abdi Allah ini, yaitu untuk jangan minum roti atau minum air, dan jangan kembali melalui jalan yang telah ia tempuh. Awalnya, abdi Allah ini taat tanpa pertangguhan.

Raja membujuk abdi Allah ini sedemikian rupa: "(7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: "Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu." Namun kembali dengan tegas abdi Allah ini menolak bahkan ia berkata, "Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini." Saya berpikir betapa lur biasanya ketaatan abdi Allah ini. Ia tidak bertangguh sedikit pun.

Namun di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang nabi Tuhan yang sudah tua. Dengan segala bujuk rayunya, nabi tua ini berusaha memprovokasi abdi Allah. "Aku pun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air." Tetapi ia berbohong kepadanya.

Lalu apa yang terjadi? Ya, Abdi Allah ini percaya. Ia lebih mempercayai perkataan nabi tua ini dibanding perintah Allah. Yang bahkan untuk setengah kerajaan pun ia perjuangkan mati-matian.

Singkat cerita, Ia mulai kompromi dan menjadi tidak taat. Akhir hidupnya mengenaskan. Ayat 24 menyebutkan, "Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu."

Sungguh mengenaskan bukan? Akhir hidup seorang hamba Tuhan yang seharusnya pulang dengan sorak-sorai karena berhasil mengerjakan misi Tuhan. Ingatlah, dia baru saja menegur raja, baru saja membuat mukjizat, baru saja menolak separuh kerajaan. Tetapi kebodohan macam apa yang dibuatnya? Dia luluh hanya karena seorang nabi tua yang membohonginya. Betapa memalukan, betapa ia terlihat sebagai seorang pecundang. Bagi Allah sebuah ketidaktaatan adalah dosa, apapun alasannya. Dia tidak bisa kompromi.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sering terjebak dalam lubang yang sama? Terjebak dengan nabi-nabi tua yang berusaha memperdaya kita. "Hanya sedikit saja, hanya sebentar saja, percayalah ini tidak akan merusak hidupmu.", "Orang lain tidak akan tau kok.", "Setelah ini bisa bertobat kan? Jadi ya lakukan saja." Apa Anda sering mendengar suara- suara ini? Suara-suara nabi tua yang penuh dengan kata-kata manis yang menjebak. Dosa-dosa yang kita pikir bisa "dikompromikan".

Yang menyedihkan, bagi Allah setiap ketidaktaatan adalah dosa. Itulah sebabnya mengapa Adam dan Hawa harus mati kekal hanya karena memakan buah. Itulah mengapa Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan hanya karena memukul batu. Itulah mengapa Uza mati ketika ia berusaha menyelamatkan tabut suci.

Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Setiap ketidaktaatan dibayar dengan mahal. Itulah mengapa Yesus harus mati di kayu salib. Ya, upah sebuah ketidaktaatan yang dilakukan manusia. Dosa memang diampuni, tapi konsekuensi selalu ada.

Saya bergumul secara pribadi. Betapa sering saya mengkompromikan dosa. Menganggap kebohongan-kebohongan kecil dapat diterima. Menganggap sedikit kata-kata kotor atau penghakiman adalah hal yang biasa. Menyia-nyiakan waktu sebagai hal yang dapat dimaklumi. Tetapi darimana saya tau? Kebenarannya Yesus tetap mati bagi saya setiap hari karena "dosa-dosa yang dapat ditolerir" itu.

Ya, bagi Allah. Setiap ketidaktaatan adalah dosa. Sudah cukupkah kita bergumul akan bagian- bagian yang kelihatan remeh ini? Apakah kita terus mencoba bertumbuh dan menang atas setiap dosa sekalipun dengan jatuh bangun? Atau malah tertawa dan menganggap ini adalah biasa?

Bagi Allah, setiap ketidaktaatan adalah dosa. Ini serius, karena ini Yesus mati di atas kayu salib.

18 Oktober 2011
Dengan gentar dan penuh kesadaran.
Kenia Oktavianie
http://artikel.sabda.org
redaksi“ JAGALAH HATIMU & WASPADALAH AGAR TIDAK TERJATUH “ ( Forum Bina Rohani , flobamor )2012-05-14“ JAGALAH HATIMU & WASPADALAH AGAR TIDAK TERJATUH “ ( Forum Bina Rohani , flobamor ) 1 Korintus 10:12 ========================== "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" Betapa seringnya kita melihat tokoh-tokoh terkenal yang kemudian hancur ketika sedang berada di puncak ketenaran. Ada banyak di antara mereka yang tadinya orang baik-baik, orang yang takut akan Tuhan, tetapi ketika ketenaran mulai ada dalam diri mereka, mereka pun terjebak pada berbagai jerat dosa yang akhirnya menghancurkan karir mereka seketika. Seringkali kehancuran ini begitu parah sehingga mereka sulit untuk mengembalikan popularitas mereka ke titik semula. Berbagai bentuk godaan dunia biasanya akan sulit ditolak ketika kita merasa berada di puncak, ketika kita terlena dalam kesuksesan, ketika kita merasa kuat. Skandal seks, korupsi, kesombongan, ketamakan dan sebagainya sering membuat para tokoh terkenal kemudian jatuh. Betapa ironisnya, mengingat banyak di antara mereka yang telah membangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Mempertahankan jauh lebih sulit daripada memulai. Itu harus selalu kita ingat. Karena di saat kesuksesan hadir dalam diri kita, ada banyak faktor yang siap membuat kita lupa diri. Ini adalah sesuatu yang akan sangat jarang menerpa ketika kita sedang merintis sesuatu. Membangun sesuatu, atau merintis sesuatu itu tidak mudah, tetapi mempertahankan itu jauh lebih sulit lagi. Paulus dengan tegas mengatakan hal ini. "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Ketika kita merasa kuat, ketika kita merasa sukses, di saat seperti itulah kita harus waspada lebih dari sebelumnya. Di saat kita mengira kita sudah teguh berdiri, ketika kita berada di puncak karir atau popularitas dan sebagainya, itulah sebenarnya yang merupakan masa paling rawan bagi kita untuk jatuh. Alkitab pun mencatat banyak contoh tokoh yang sebenarnya luar biasa, berprestasi atau setidaknya menjanjikan, namun mereka tersandung jatuh hanya karena masalah yang relatif kecil yang seharusnya bisa mereka hindari. Lihat Musa yang antiklimaks, telah begitu sabar menuntun bangsa Israel yang tegar tengkuk selama puluhan tahun, akhirnya gagal memasuki tanah janji karena ia tidak bisa menahan emosi pada suatu ketika. Lihat beberapa raja Israel yang jatuh ketika berada di puncak karir dan popularitas mereka. Daud jatuh akibat dosa perzinaan, Salomo jatuh dalam dosa penyembahan berhala, atau lihatlah Saul yang tadinya begitu cemerlang namun akhirnya binasa akibat serangkaian dosa yang ia perbuat. Korah merasa dirinya terlalu hebat kemudian haus akan kekuasaan dan jabatan lalu memberontak. akibatnya Korah dan orang-orangnya pun mengalami akhir yang mengerikan. "tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan." (Bilangan 26:10).Kisah menara Babel, jemaat Laodikia dalam kitab Wahyu dan sebagainya, semua menunjukkan bahwa ketika situasi sedang sangat baik, ketika sedang berada di puncak, disanalah ada bahaya mengancam. Itulah titik rawan bagi kita untuk jatuh. Kepada jemaat Filadelfia dalam kitab Wahyu kita bisa melihat sebuah pesan yang sangat penting untuk kita ingat. "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu." (Wahyu 3:11). Peganglah terus, pertahankanlah. Itu sebuah seruan yang sangat penting dalam perjalanan hidup kita, terlebih ketika aroma kesuksesan dan kenyamanan berada di atas sedang memenuhi diri kita. Penulis Ibrani pun mengingatkan hal yang sama. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1). Ini sebuah pesan agar kita lebih teliti, lebih jeli dan lebih berhati-hati menapak ke depan. Keselamatan yang telah kita peroleh sebenarnya sungguh tinggi nilainya, karenanya berhati-hatilah agar jangan apa yang telah kita genggam akhirnya harus luput dari tangan kita. Demikian dikatakan oleh Penulis Ibrani:"Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula." (3:14). Apakah saat ini anda sedang menikmati buah dari usaha yang telah kita rintis selama bertahun-tahun? Apakah anda sedang bersukacita karena apa yang kita perjuangkan berhasil? Apakah anda sedang berada pada puncak karir atau kesuksesan anda? Jika itu yang sedang anda alami saat ini, inilah saatnya bagi anda untuk benar-benar waspada. Sesungguhnya ada banyak jebakan dan jerat yang siap menjatuhkan jika kita tidak hati-hati. "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Di saat kita sedang merasa kuat, disanalah sebenarnya masa-masa rawan yang harus benar-benar kita awasi. Marilah kita terus mengingatkan diri kita agar terus memegang apa yang sudah dianugerahkan kepada kita oleh Tuhan agar jangan lenyap dari diri kita. Berhati-hatilah terhadap berbagai jebakan dosa, apalagi yang tidak kasat mata, terlihat sepele, kita anggap sangat kecil dan sebagainya. Sudah terlalu banyak contoh kejatuhan anak-anak Tuhan disaat mereka sedang terlena dalam kesuksesan, di kala mereka sedang merasa kuat dan hebat. Oleh karena itu peganglah teguh apa yang sudah anda miliki hari ini dari Tuhan, pertahankanlah, dan tetaplah bersyukur dan hidup rendah hati, mengasihi seturut dengan kehendak Tuhan ketika anda sedang berada di atas.
N.MORANGKIR. KESOMBONGAN.2012-05-10 SAUDARA YANG SUKSES MALU BERSAUDARAKAN SAUDARANYA YANG BELUM SUKSES.
N.MORANGKIR. SAUDARA SUKSES MALU BERSAUDARA KAN YANG BELUM SUKSES2012-05-10 KESOMBONGAN
RedaksiCurahan Hati Kisah Nyata! ‘Aku Diperlakukan Bak Seekor Anjing Oleh Ibu Kandungku’2012-05-08Curahan Hati
Kisah Nyata!

‘Aku Diperlakukan Bak Seekor Anjing Oleh Ibu Kandungku’

... “Ibuku sendiri memperlakukan diriku seperti seekor anjing,” seperti inilah jeritan seorang anak yang kesehariannya diwarnai dengan dipukuli ibunya, dikunci di ruangan, tidak diberikan tempat tidur hingga berjualan di pasar gypsy. Apa yang membuat seorang ibu tega berbuat seperti itu pada darah dagingnya sendiri?

Andrew Clappison, 18 tahun, melaporkan ibunya, Linda Clappison, 46 tahun ke pengadilan karena perlakuan yang tidak lagi bisa diterimanya. Andrew mengaku kepada pengadilan Hull Crown bahwa ibunya dulu baik-baik saja dan penyayang sampai ayahnya meninggalkan ibunya saat dirinya berusia sepuluh tahun. Dilansir Dailymail, remaja lelaki ini merasa hidupnya bagaikan teror dengan kelakuan ibunya yang kadang melarang dirinya pergi sekolah namun memaksanya untuk berjualan di pasar gypsy. Sepulang sekolah iapun dikurung di kamar dan hanya tidur di lantai tanpa cahaya lampu atau pemanas. Di hari-hari tertentu, ibunya juga sering memukuli dan menendangnya tanpa ada alasan tertentu. Bekerja di pasar Gypsy di area Whitby dan Hull Fair diakuinya ia tak menerima bayaran sepeserun, ia hanya dijadikan pesuruh di pasar tersebut oleh para penjual lepasan. Jika para penjual itu mengeluh pada ibunya, maka ia langsung dipukuli, ditampar atau ditendang oleh ibunya di rumah. Perlakuan aneh dari ibunya tidak hanya sampai di situ. Setelah ia dikurung di kamar, ia harus mengetuk pintu jika ingin pergi ke toilet atau minum air. “Aku diperlakukan seperti anjing pada dasarnya,” akunya. Sejak bulan Januari 2010, ibunya mengeluarkan kasur dan selimut dari kamarnya. Iapun mengakali kedinginan di musim dingin dengan mengangkat matras dan menjadikannya selimut. Saat bangun pagi, kakinya sudah membiru dan membeku. Meskipun ada pemanas di kamarnya, tapi alat itu tidak bisa digunakan tanpa radiator. Pihak sekolah juga mengakui ke pengadilan, di periode usia Andrew yang menginjak 10 hingga 16 tahun, absensi sekolahnya hanya mencapai 43%. Saat pihak sekolah menelpon ayah atau ibunya di rumah, tidak ada yang menjawab. Hingga saat ini, Linda Clappison yang tinggal di Keyingham Marsh, Inggris, menolak tuntutan anaknya sendiri yang mengatakan bahwa dirinya menyiksa hingga menelantarkan. Sidangpun masih terus berlanjut.
<< Prev 1 2 3 4 5 6 ... 33 Next >>

Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :