Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek

Silahkan di tulis mohon jangan ada unsur SARA


Nama:


Judul/Pengirim:


Renungan & Motivasi Hidup:




NamaJudul/Pengirim TanggalRenungan dan Motivasi Hidup
redaksiSYUKURIN!2012-05-29SYUKURIN!

Source: Yayasan Gloria
Read: Obaja 8-16

Janganlah memandang rendah saudaramu pada hari kemalangannya. (Obaja 12)

Bible in a year: 1 Tawarikh 26-29; Mazmur 127

Syukurin, " gumam seorang teman ketika tokoh antagonis sebuah film dihajar habis-habisan. Memang beberapa sutradara begitu pintar menyusun plot cerita hingga tidak jarang memancing reaksi dari dasar hati penonton. Dalam kenyataan, kita senang melihat orang jahat menelan buah pahit perbuatannya. Bisa jadi itu salah satu jawaban doa kita. Akan tetapi, apakah Tuhan juga senang dengan hal itu?

Bangsa Edom bersukacita ketika Israel saudaranya mengalami malapetaka, bahkan ikut menindas bangsa yang sudah terpuruk itu (ayat 10-11). Catatan Perjanjian Lama menunjukkan kehancuran kerajaan Israel dan Yehuda diakibatkan oleh pemberontakan mereka terhadap Tuhan. Salahkah jika Edom menyambut penghancuran mereka dengan bersemangat? Tuhan dengan jelas menentang Edom (ayat 12-14). Dalam bagian lain, Tuhan sendiri berkata bahwa Dia menghendaki pertobatan, bukan kematian orang fasik (lihat Yehezkiel 33:11). Seharusnya Edom gentar dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Jika Tuhan tidak segan menghajar umat pilihan-Nya sendiri, bagaimana mungkin mereka berpikir mereka bisa luput (ayat 15-16)?

Penghukuman Tuhan dimaksudkan agar manusia bertobat dan terhindar dari penghukuman kekal. Ketika ada saudara yang jatuh dalam dosa dan didisiplin Tuhan, seharusnya kita berbelas kasih dan mendoakan agar pengalaman itu membawa mereka makin mengenal Tuhan dan taat kepada-Nya. Dan, seharusnya kita tidak mengulangi kisah mereka. Dengan gentar di hadapan Tuhan yang kudus, kita perlu memohon kasih karunia untuk menjalani hidup yang berkenan di hadapan-Nya. --ELS

KITA ADALAH SESAMA PENDOSA YANG MENERIMA PENGAMPUNAN.
BENCILAH DOSA, TETAPI KASIHILAH SESAMA YANG TERBELENGGU DOSA.
sumber : http://www.alkitabku.com
redaksiAMPUNILAH DAN LUPAKANLAH2012-05-29AMPUNILAH DAN LUPAKANLAH

Source: Yayasan Gloria
Read: Yesaya 43:22-28

"...Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25)

Bible in a year: Mazmur 131, 138-139, 143-145

Amy Charmichael, seorang wanita Irlandia yang melayani di India selama 55 tahun, termasuk penulis yang produktif. Dalam salah satu bukunya, If (1953), ia menulis: Jika aku berkata, "Ya, aku memaafkan perbuatanmu, tetapi tidak dapat melupakannya, " seolah-olah Allah, yang dua kali sehari membasuh semua pasir di semua pantai di seluruh muka bumi ini, tidak dapat membasuh ingatan buruk semacam itu dari pikiranku, maka aku tidak tahu apa-apa tentang kasih Kalvari.

Kasih Kalvari menunjukkan pengampunan Tuhan yang luar biasa bagi manusia yang patut dibinasakan. Perhatikan teguran Tuhan melalui Yesaya: umat-Nya telah memberati Tuhan dengan dosa, menyusahi-Nya dengan kesalahan (ayat 24). Sangat adil jika mereka dibinasakan. Namun, Tuhan berkenan menghapus dosa mereka, dan tidak lagi mengingat-ingatnya (ayat 25). Bukankah Tuhan Maha Pengingat? Tak mungkin Dia lupa dengan pemberontakan mereka. Dia tidak "mengingat-ingat" menunjukkan bahwa Dia tidak akan mengungkit dosa-dosa itu untuk menentang dan menghakimi mereka.

Hal "mengampuni" kerap menjadi kendala bagi banyak orang. Ketika merasa disakiti, diperlakukan tidak adil, dirugikan, atau dikhianati, tak jarang kita menyimpan amarah terhadap orang yang menyakiti kita, bahkan dendam. Mungkin kita berkata bahwa kita bersedia memaafkan, tetapi hati kita tidak. Siapakah kita? Orang-orang yang patut dimurkai dan dibinasakan! Namun, Allah bersedia mengampuni kita dan melupakan dosa-dosa kita! Lebih hebatkah kita dari Allah sehingga kita tidak harus memaafkan sesama kita dan melupakan kesalahannya? Harapkanlah anugerah dan pertolongan-Nya, lalu ampunilah dan lupakanlah. --SAR

PENGAMPUNAN ALLAH YANG SEMPURNA MEMAMPUKAN SESEORANG
MELAKUKAN HAL YANG SAMA TERHADAP SESAMANYA.
sumber : http://www.alkitabku.com
renunganMERASA BENAR2012-05-29MERASA BENAR

Source: Yayasan Gloria
Read: 1 Korintus 8:1-12

Jika ada orang yang menyangka bahwa ia mempunyai suatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah. (1 Korintus 8:2-3)

Bible in a year: 1 Tawarikh 23-25

Seorang teman pernah mengeluhkan pemain basket dalam tim yang dilatihnya. "Memang mainnya bagus, tetapi main sendiri, tidak pernah memberi bola untuk yang lain, " jelasnya. Si pemain hebat begitu berpusat pada dirinya sendiri. Dalam pandangannya ia berbuat yang benar dengan menghasilkan poin demi poin bagi timnya, tetapi dari kacamata pelatih ia sedang mematikan semangat dan potensi yang ada dalam tim.

Beberapa orang dalam jemaat di Korintus juga berpikir bahwa mereka sedang melakukan apa yang benar, menegaskan kemerdekaan orang percaya di dalam Kristus (ayat 4-6, 8). Namun, mereka tidak memperhatikan keberatan-keberatan nurani sesama saudara seiman. Tuhan tahu hati mereka (ayat 3). Jika mereka mengasihi Tuhan, mereka akan memikirkan bagaimana agar sikap mereka dapat membangun sesama umat Tuhan (ayat 1). Namun sebaliknya, karena mereka tidak punya kasih, pengetahuan mereka menjadi batu sandungan bagi orang lain. Betapa tragis jika seseorang merasa diri benar, tetapi ternyata ia telah berdosa di mata Tuhan (ayat 12).

Semua orang yang percaya kepada Kristus akan menjadi saudara-saudara kita dalam kekekalan. Ada yang beribadah di gereja yang sama, ada yang berbeda. Ada yang kita jumpai setiap hari, ada yang hanya sebentar. Ada yang menyenangkan, ada yang menjengkelkan. Bagaimana ucapan dan tindakan kita kepada mereka jika dipandang dari kacamata Tuhan? Adakah Dia mengenal kita sebagai anak-anak-Nya yang mengasihi Dia? Satu tindakan kasih apa yang dapat kita lakukan untuk membangun saudara-saudara kita hari ini? --ELS

PENGETAHUAN + KASIH = TINDAKAN MEMBANGUN
sumber : http://www.alkitabku.com
redaksiINDAHNYA UJIAN2012-05-29INDAHNYA UJIAN

Source: Yayasan Gloria
Read: Yakobus 1:2-8

"Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." (Yakobus 1:3)

Bible in a year: Mazmur 108-110

Dalam bukunya God's Power to Change Your Life, Rick Warren menuturkan kisah dirinya saat masih muda. Ketika itu, ia begitu rindu memiliki buah roh kesabaran seperti dalam Galatia 5. Suatu pagi, ia berdoa supaya Tuhan menolongnya untuk menghasilkan buah roh tersebut. Siang harinya, sewaktu ia sedang makan di kampus, datanglah seseorang yang terkenal jahil. Orang tersebut dengan sengaja menumpahkan makanan ke badan Rick sampai bajunya berlepotan. Hati Rick pun panas. Namun, sewaktu ia ingin marah, tiba-tiba ia diingatkan oleh doanya tadi pagi. Ia disadarkan bahwa justru inilah ujian yang Tuhan izinkan terjadi supaya ia mengembangkan kesabaran. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membalas.

Ada banyak sarana dalam kehidupan yang dapat Tuhan pakai untuk menumbuhkan kehidupan rohani kita. Salah satunya adalah tatkala Dia mengizinkan "gangguan" atau ujian yang tak mengenakkan kita. Penulis kitab Ibrani menjelaskan alasannya, yaitu supaya kita dapat melatih dan mengasah karakter menjadi lebih sempurna di tengah tantangan (ayat 4). Juga, agar kesabaran kita memperoleh kesempatan untuk bertumbuh (ayat 3 FAYH). Itu sebabnya, kita patut berbahagia apabila mengalami kesukaran (ayat 2). Tentu saja, saat kita mengalami ujian, kita kerap kali bimbang, tidak tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa. Itu sebabnya, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak ragu meminta hikmat dari Tuhan (ayat 5-7). Hikmat dari Tuhan akan membuat kita lebih tenang dalam menghadapi ujian (ayat 8).

Anda mengalami ujian yang tidak menyenangkan? Ujian dari Tuhan sesungguhnya menempa karakter kita. Berdoalah supaya kita terus berhikmat dalam menjalani ujian ini. --JIM

"TUHAN MENGUJI SUPAYA KELAK DIA MEMAHKOTAI KITA."
-SANTO AMBROSIUS-
sumber : http://www.alkitabku.com
redaksiLinda Mien Lapian / Kisah Perjuangan Seorang Ayah2012-05-25Linda Mien Lapian
Kisah Perjuangan Seorang Ayah

Pak Jun Nan tinggal di sebuah dusun yang berada di daratan China, ia ditemani oleh seorang istri yang baik dan setia. sehari-hari mereka menghabiskan waktunya hanya bercocok tanam. Dalam panen pada musimnya sang suami menyuruh istrinya untuk menyimpan hasil penjualan tanaman mereka untuk keperluan anaknya yang sedang kuliah di koya Beijing. Kedua anaknya telah menetap di kota Beijing, Yang tertua sudah lulus dari kuliahnya dan bekerja di sebuah perusahan elit yang gajinya cukup buat kebutuhan dia sendiri, sedang yang bungsu masih kuliah semester 4. Suatu hari, pak jun nan, hendak berangkat dari desanya menuju kota Beijing, untuk menjenguk anaknya yang tinggal di kota beijing. Sambil membopong sekantung ketela merah kering ia menempuh jarak yang jauh ingin menjenguk anaknya yang sedang kuliah di Beijing. Ia rela sepanjang perjalanannya itu tidak mengeluarkan uangnya, karena bekal uangnya tidak banyak, maka dia hanya bisa meminta air minum dari depot ke depot sepanjang perjalanan yang dilewatinya. Sayang sekali dia sering sekali diusir pergi, orang-orang menganggapnya pengemis. Sebisa mungkin ia tidak naik kendaraan dan memaksakan diri berjalan kaki hingga mencapai kota terdekat dengan bandara, barulah dia naik taksi ke bandara. Ketika di bandara, ada pemeriksaan sebelum naik ke pesawat, petugas mengatakan bahwa karungnya itu terlalu besar, dan memintanya agar karung itu dimasukkan ke bagasi, namun dia mati-matian menolak, dia bilang takut ketelanya hancur, jika hancur anak bungsunya tidak mau makan lagi, dengan kewalahan akhirnya mereka memperbolehkan ia lewat. Dengan bertanya tanya kepada setiap orang maka akhirnya ia bisa memasuki dalam pesawat. Dengan membawa aroma tanah yang khas dari pedesaan, Ia menjadi pusat perhatian di antara para penumpang yang naik pesawat. Ketika pesawat sudah mulai terbang datar, para pramugari mulai melayani penumpang. Pramugari mulai menuangkan air. Hingga tiba di baris kursi dimana Pak Jun berada, dia terlihat duduk dengan sangat hati-hati, sedang karung goni bawaannya tidak diletakkan di tempat bagasi bawaan, tingkah si sang bapak ini membuat para pramugari merasa heran. Saat ditanya mau minum apa, dengan gugup dia menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata tidak mau. Saat hendak dibantu untuk menyimpan karungnya di tempat bagasi dia juga menolak. Terpaksa pramugari membiarkan dia menggendong karung tersebut. Beberapa saat kemudian tiba waktunya untuk membagikan makanan, ia masih duduk dengan tegak dan tidak bergerak sama sekali, kelihatannya sangat gelisah, saat diberi nasi, dia tetap saja menggoyangkan tangannya menolak tanda tidak mau. Karenanya kepala pramugari datang menghampirinya dengan ramah menanyakan apakah dia sedang sakit. Dengan suara lirih dia berkata ingin ke toilet tapi dia tidak tahu apakah boleh berkeliaran di dalam pesawat, dia takut merusak barang-barang yang ada di dalam pesawat. Pramugari tersebut memberitahu pak Jun tidak ada masalah dan menyuruh rekannya untuk mengantarkan ke toilet. Saat menambahkan air untuk kedua kalinya, pak Jun hanya memperhatikan para penumpang yang sedang minum air yang diberikan oleh pramugari, ia hanya menelan liur sambil menerus menjilat-jilat bibirnya. Seorang pramugari memperhatikan, lantas menawarkan sesecangkir teh hangat kepada pak tua, ia langsung meletakkan di atas mejanya tanpa bertanya kepadanya. Ternyata tindakan pramugari itu membuat ia sangat ketakutan dan berkali-kali ia mengatakan tidak perlu, pramugari itu pun berkata kepadanya minumlah jika sudah haus. Mendengar demikian, dia buru-buru dia mengambil segenggam uang dari balik bajunya, semuanya berupa uang receh, dan disodorkan kepada pramugari tersebut. Sang pramugari kaget, dan ia mengatakan kepadanya bahwa minuman ini gratis. Sang bapak tidak percaya dengan perkataan itu. Sebab dia disepanjang perjalanan beberapa kali ia masuk ke rumah orang untuk meminta air minum tetapi tidak pernah diberi, bahkan selalu diusir dengan penuh kebencian. apalagi dipesawat yang mahal ini, pikirnya. Setelah diyakinkan beberapa kali oleh pramugari, maka akhirnya dia mau mempercayai, lalu perlahan-lahan meminum tehnya. Sang pramugari sangat iba dengan keadaan pak Jun nan tersebut, pramugari itu menanyakan apakah dia lapar, maukah memakan nasi, tetapi sang bapak masih tetap saja mengatakan tidak mau. Dia bercerita kepada pramugari itu, bahwa ia memiliki 2 orang putra, keduanya bisa diandalkan dan sangat berguna, keduanya diterima di perguruan tinggi, yang bungsu sekarang kuliah di semester 4, sedangkan si sulung telah bekerja. Kali ini dia ke Beijing menjenguk anak bungsunya yang sedang kuliah.

Selama dalam perjalanan di pesawat, Pramugari yang iba dengan pak Jun Nan itu, sangat rajin menuangkan air minum untuknya, dan pak Jun Nan selalu dengan sopan mengucapkan terima kasih. Saat pramugari memberikan makanan kepada pak Jun Nan, tetap saja ia menolak untuk menerima makanan itu, walaupun pramugari itu tahu perut pak Jun Nan sudah sangat lapar, ia tetap saja menolak dengan keras tidak mau makan. Lalu sang pramugari tersebut meletakkan di depan mejanya. Setelah merasa dekat dengan pak Jun Nan, akhirnya sang pramugari menawarkan dia, bahwa barang bawaannya aman jika disimpan dibagasi, dia berdiri dengan waspada dalam waktu lama, kemudian baru diletakkannya dengan hati-hati. Sampai menjelang pesawat akan mendarat, dia dengan sangat berhati-hati menanyakan kepada kami apakah kami bisa memberikan sebuah kantongan kepadanya, yang akan digunakan untuk membungkus nasi jatahnya tersebut untuk dia bawa pergi. Dia bilang selama ini dia tidak pernah mendapatkan makanan yang begitu enak, dan dia akan bawakan makanan itu untuk diberikan kepada anak bungsunya.Krena dia mengangap makanan yang istimewa ini akan membuat anaknya senang jika diberikan. Mungkin bagi sebagian orang, khususnya penumpang pesawat akan di anggap sesuatu hal yang biasa, tetapi ternyata lain dengan pak jun nan, ia begitu menganggapnya begitu berharga. Dia sendiri enggan untuk makan, dia menahan lapar, demi untuk disisakan bagi anaknya. Mendengar perkatan pak Jun Nan, maka sang pramugari tersebut terasa terharu, lalu ia langsung membungkus semua makanan yang tersisa karena tak terbagikan kepada penumpang pesawat. Lagi-lagi pak Jun Nan menolak dengan penuh kepanikan, dia bilang dia hanya mau mengambil jatahnya saja, dia tidak mau mengambil keuntungan dari orang lain. Kebanyakan para pramugari hampir berkaca-kaca matanya mendengar perkatan pak jun nan yang begitu sopan tapi tidak mementingkan dirinya sendiri. Setelah semua penumpang udh mulai berkurang dan pada turun. Tinggallah pak Jun nan seorang diri, para pramugari hendak membantunya membantunya membawakan karung goninya sampai ke pintu keluar. Saat mereka akan membantunya menaikkan karung goni tersebut ke punggungnya, secara tiba-tiba pak Jun Nan itu melakukan suatu tindakan yang mengejutkan para pramugari, dia berlutut di atas tanah. Dengan air mata berlinang dia bersujud kepada para pramugari dan mengatakan, “Kalian semua sungguh adalah orang-orang yang baik, kami orang desa sehari hanya bisa makan nasi satu kali, selama ini kami belum pernah minum air yang begitu manis, tidak pernah melihat nasi yang begitu bagus, hari ini kalian bukan saja tidak membenci dan menjauhi saya, malah dengan ramah melayani saya, sungguh saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada kalian, saya hanya bisa berharap kalian orang-orang yang baik suatu hari nanti akan mendapatkan balasan yang baik”. maka para pramugari yang sejak dari awal mengetahui pak jun nan, tidak lagi bisa menahan hatinya, mereka semua sampai meneteskan air mata melihat sikap dari pak Jun nan ini. Merka bersama- sama membangunkan pak jun nan, seorang pramugari, tak kuasa hingga ia memeluk pak jun nan dan berkata, "pak, kami pun sangat berterima kasih kepada Anda. karena dengan kehadiran bapak di pesawat ini telah membuka hati kami untuk bisa mengasihi lebih baik lagi kepada para penumpang." Pramugari yang lain hanya mengangguk-angguk kepalanya sembari mengusap air matanya. Salah satu dri pramugari itu memanggil petugas yang berjaga dan menyerahkannya untuk membantunya sampai pintu keluar.

Di muka pintu bandara, kedua anaknya telah berdiri untuk menjemput orang tuanya, lalu anaknya yang bungsu mengambil karung yang di bawa ayahnya, lalu mereka menuju mobil yang di pinjam anak sulungnya dari perusahan dimana ia bekerja. Selama dalam perjalanan pak jun nan masih teringat akan kebaikan para pramugari tersebut, sampai-sampai ia meneteskan air matanya tatkala ia mengingat itu. Anaknya yang sulung kaget begitu melihat ayahnya menanggis dari kaca mobil. "papa kenapa menanggis.' tanya sang anak sulung. Anaknya yang bungsu pun kaget mendengar perkatan kakaknya, dan ia pun menenggok ke belakang bangku, dimana mereka memang duduk di bangku depan. Setelah ia menenangkan hatinya, ia pun menceritakan; saat ia dalam perjalanan menuju bandara. di sepanjang perjalana ketika ia haus tidak ada seorangpun yang mau membrikan air kepadanya, bahkan ia di usir layaknya ia pengemis. Tetapi saat ia di pesawat, wanita-wanita itu tidak bosan-bosannya menawarkan air kepadanya, bahkan ia menuangkan minum hingga beberapa kali buat dia. Mendengar cerita papanya sang anak langsung terdiam, mereka membayangkan jerih payah ayah mereka yang hendak menyusul mereka. sehingga papanya itu rela berjalan begitu jauhnya untuk mereka, hanya untuk memberikan sedikit bekal buat mereka. karena kelelahan dalam perjalanan sang ayah pun tertidur. Sedang kedua anaknya selama dalam perjalanan hanya terdiam, mereka merenungkan perjuangan ayah mereka sehingga mereka bisa kuliah di kota besar ini. Apakah kelak bisa membalas kebaikan orang tuanya. Mungkin hanya waktu yang akan menentukan apakah ia bisa merawat orang tua mereka.

Amen
Tuhan Yesus Memberkati
1 2 3 4 ... 33 Next >>

Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :