Membangun Sulut Dengan Iman, Budaya dan IpTek
Nama:

Judul:

Puisi :


NamaJudul PuisiTanggalPuisi
Curahan HatiMentari 2012-02-27Mentari telah terbenam dan bintang malam bersinar

Dan sangat jelas memanggilku

Dan mungkin di sana tiada rintangan yang akan menghadang

Saat kuarungi lautan


Tetapi pasang menghempas tanpa henti

Tuk bersuara dengan berisik dan berbuih

Hingga akhirnya terhempas hingga kedalaman tanpa batas

Kembali pulang ke rumah


Senjakala dan deringan malam

Dan setelah kegelapan itu!

Dan mungkin di sana tidak ada kesedihan dari perpisahan

Saat kunaiki kapal


Dari engkau, dari waktu dan tempat yang telah kita tinggali

Air yang besar mungkin membawaku jauh

Kuberharap tuk melihat pilotku muka dengan muka

Ketika aku telah melewati rintangan
falensemut2012-01-18tentang semut
Benidictus Vani TambajongMEREKA MEMANG MONYET2012-01-17Mereka bilang manusia

Saat debat tangannya ada yang gaya garuk,padahal masuk saku

Saat berbicara badan gembul isap cerutu mirip pisang kegemaran sang monyet.

Saat ketok palu berebutan ingin cepat usai karena ingat selingkuhan menanti di kamar hotel.



Aku bilang mereka monyet

Saat hitung dan berandai mereka serempak ingin jadi kaya raya.

Saat mereka debat garuk garuk pantat mirip orang kena ambeyen.

Saat itu ku tahu memang mereka punya tanda,pantat datar lama duduk dikursi panas.



Ku yakin mereka monyet hilang akal,garuk kepala walau tak berkutu.

kala lupa ingatan sebutan rakyat yang sumir karena bela kekeliruan rumah monyet.

Kala bingung jawab membenarkan kebohongan yang memang akal akalan belaka.

Saat itu makin jelas mereka memang kumpulan monyet tak berumah.



Ku yakin mereka memang monyet

Kala ku lihat helai rambut diatas meja panjang tapi kelamin laki.

Kala ku tahu mereka punya 2 istri mirip monyet berlipstik menor.

Kala ku tahu nonton pilem telanjang,berdesah ah,.. ah,.. u.. a.u.a. i. ketangkap camera.



Makin pasti mereka monyet

Kala ku tahu curi dompet punya rakyat jelata

Kala ku tahu cuci tangan atas putusan hakim suap dari dompetku.

Memang mereka itu monyet monyet tapi berjas dan dasinya selusin.



Sangat jelas mereka monyet

Kala mendebatkan rumah monyet dengan sejuta kata.

Kala tak paham rakyat yang mana tapi bertanya sambil cibir sombong lupa asal.

Nah makin jelas mereka monyet bukan manusia yang juga rakyat.



Saat ku renung bentuk rumah monyet

Kala itu kupaham gambaran mirip celana dalamku

Kala senja tiba jemuran lama,lupa diangkat dan jatuh.

Para monyet rebutan celana dalam penuh bekas kotoran.



Inilah kisah para monyet,angkuh,sombong,dan lama duduk.

Lihat pantatnya datar bukan karena banyak anak tapi lama sanggama asal asalan.

Tukar pasangan saat benci,...mesra,..dan ...benci lagi,..mirip anak anak SD.

Ingat aku kata seorang tua panutanku :"memang mirip taman kanak-kanak".
Helga WorotitjanKuasa Kenangan2012-01-16Kuasa Kenangan

sepotong lara abu-abu pecah di teras ingatan
terganggu linikala berlirik pengap
saat aku diam dalam kerak janji
kekasih yang rajin mengirimkan air mata

kesakitan masih berjejak
RedaksiKuasa Kenangan2012-01-16Kuasa Kenangan

sepotong lara abu-abu pecah di teras ingatan
terganggu linikala berlirik pengap
saat aku diam dalam kerak janji
kekasih yang rajin mengirimkan air mata

kesakitan masih berjejak
<< Prev 1 2 3 4 5 6 7 ... 11 Next >>

Loading

 



Juni 2011 © LSM Pendidikan Silo (NGO) & LSM Pemberdayaan Teknologi dan Perkotaan (NGO)
Penanggung Jawab :